Efisien (day 32)

i @31harimenulis Saya menganggap kebetulan itu lucu. Termasuk ketika ternyata proyek keroyokan “31harimenulis” kali ini bertepatan dengan sebulan setelah saya …

baca utuh

Meratapi riverdale (day 31)

Menonton serial televisi itu bukanlah pekerjaan mudah. Mungkin terlihat mudah, padahal sebenarnya tidak. Ada banyak emosi yang terlibat di dalamnya. …

baca utuh

Sepenuh hati (day 30)

Bertambah lagi teman yang sudah sidang hari ini. Dia yang bahkan beberapa hari sebelumnya sempat saya tanyai apakah ada perubahan …

baca utuh

Menunda tidur (day 28)

Dilatih untuk banyak memiliki sangat banyak waktu luang di dua semester terakhir membuat saya semakin ahli dalam melakukan penundaan terhadap …

baca utuh

Saya pikir, mungkin (day 27)

Katanya, jangan menggunakan “I think” dan “maybe” di wawancara kerja. Terlepas dari bagaimana formula baku orang dalam mengartikulasikan jawaban orang …

baca utuh

Suspek flu (day 26)

Minggu. Saya sempat terbangun tengah malam. Dengan kondisi kegerahan. Setelah dari kamar mandi, saya kembali tidur. Pagi. Saya merasa lain. …

baca utuh

Jangan menumpuk (day 25)

Jangan biasakan menumpuk apa pun halnya. Pertama, ketika kita mulai melakukannya, selanjutnya hal itu jadi terasa wajar. Kedua, setelah muncul …

baca utuh

Aura kolektif (day 24)

Kolektif itu yang bikin beda adalah atmosfer menuntutnya. Ketika kita melakukan berbagai hal sendirian, dorongan kuat untuk segera menyelesaikannya adalah …

baca utuh

13 reasons why (day 23)

Pernah nonton The Butterfly Effect? Kali ini saya tidak akan membicarakan lebih jauh tentang substansi film tersebut, melainkan serial 13 …

baca utuh

Self service (day 22)

Semakin maju zamannya, saya kira semakin mandiri pelayanannya itu wajar. Dulu kita terbiasa menemui banyak pekerja di pabrik, toko retail, …

baca utuh