Katanya, jangan menggunakan “I think” dan “maybe” di wawancara kerja. Terlepas dari bagaimana formula baku orang dalam mengartikulasikan jawaban orang lain, di waktu-waktu sekarang, sebenarnya saya kurang sepakat.
Saya paham betul bahwa dua model jawaban tersebut menunjukkan sisi vulnerable pada ucapan yang keluar. Dan kalau misal saya kembali ke posisi paling tidak tiga tahun silam, saya akan mengiyakan dan sebisa mungkin menghindarinya dalam percakapan formal.
Sayangnya, saya kini berada di masa di mana saya sendiri lebih menghargai potensi-potensi yang “tidak rigid” itu. Percabangan dari jawaban subjektif dan prediktif, di otak saya yang sekarang terlihat lebih menarik. Jawaban-jawaban ini menunjukkan betapa banyaknya potensi perbedaan sudut pandang dan keragu-raguan yang menarik buat diamati. Tidak ada mutlak benar dan tidak ada mutlak salah. Tidak apa berandai-andai.
Namun, agaknya keyakinan saya yang sedemikian besar pada “jawaban potensial” itu masih belum relevan dengan tipe pewawancara formal sampai sekarang. Setidaknya, bolehlah beraspirasi bahwa ke depannya sudut pandang personal lebih diperhatikan. Toh kita harus paham bahwa yang nantinya berada di hadapan bukanlah mesin, tapi orang.
Mungkin ini juga, ya, yang bikin saya sampai hari ini masih kesulitan menjawab pertanyaan: besok mau kerja di mana setelah lulus?