Aura kolektif (day 24)

Kolektif itu yang bikin beda adalah atmosfer menuntutnya. Ketika kita melakukan berbagai hal sendirian, dorongan kuat untuk segera menyelesaikannya adalah dari diri kita sendiri. Sedangkan, ketika itu berkelompok, dorongan itu berasal dari semangat yang dipancarkan masing-masing person. Rasanya, ketika tiap orang berpacu buat menjadi yang paling cepat selesai, orang lain pun ikut tertantang untuk segera menyelesaikannya pula.

Sama halnya dengan skripsi, katakanlah. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, sadar tidak sadar, tuntutan ini berada di ranah kolektif. Hitungannya adalah teman-teman seangkatan. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dulunya semua anggota memulai perjalanan panjang ini bersama-sama, serentak dari nol. Sayangnya, mengawali berbeda dengan mengakhiri. Mengakhiri ini ritmenya lain: tergatung niat dan kemauan.

Ketika setiap Jumat satu demi satu teman seperjuangan ada yang sudah melewati fase sidang, saya pribadi merasakan cambuk tuntutan itu semakin menggelora. Rasanya ingin secepatnya menyusul mereka.

Di saat-saat ini pula, saya pun menyadari bahwa faktor skripsi cepat selesai atau tidak itu tergantung dari atmosfer lingkungan seangkatan. Dengan payung kompetitif, istilah semangat untuk mengerjakan dan menyelesaikan itu sangat mudah ditemui. Namun, bayangkan kalau sebaliknya, ketika sudah banyak yang lulus dan masih ada yang belum memulai atau malah tertinggal di belakang. Jelas, motivasi bagi entitas tersebut makin tergerus.

Dari sinilah saya cuma ingin bilang, buat semua teman seperjuangan, ayo saling mengejar. Mumpung dorongan semangatnya masih banyak, mumpung teman-teman yang berjuang juga masih banyak, atmosfer tuntutan “ingin segera” ini masih sangat pekat. Jangan sampai menjadi bagian terakhir, karena bisa jadi besok-besok “teman seperjuangan” itu sudah banyak yang mrotoli satu per satu.

Di kehidupan kolektif, berjuang sendirian itu kendalanya jauh lebih berat.