Self service (day 22)

Semakin maju zamannya, saya kira semakin mandiri pelayanannya itu wajar. Dulu kita terbiasa menemui banyak pekerja di pabrik, toko retail, bank, pom bensin, bahkan toko kelontong. Sekarang? Berkurang, atau lebih tepatnya dikurangi pelan-pelan.

Hari ini saya mencoba sendiri yang namanya SPBU self service. Alurnya: pembeli mengisi sendiri BBM ke tangki kendaraannya setelah menyetor sejumlah uang ke petugas kasir yang ada di gerbang pengisian. Ya, pembeli akhirnya bisa menarik dan mengarahkan alat pengisian bahan bakar yang fenomenal itu ke lubang pengisian. Sederhana, sih, tapi nyatanya ini efektif bikin saya senang. Pikiran saya langsung terlempar ke tumpukan adegan di film-film.

Langkah pemandirian pelayanan ini pun terjadi di mana-mana, semua lini. Kalau kita rajin mengonsumsi media, pasti sudah fasih dengan informasi tentang pengurangan penggunaan tenaga manusia di pabrik dan digantikan oleh mesin. Di bank pun demikian, teller pelan-pelan menyusut jumlahnya, setor ke rekening sekarang mulai bisa lewat mesin ATM khusus. Dan yang masih cukup baru dan belum saya lihat praktiknya di Indonesia adalah check-out mandiri di toko retail (kalau kantin kejujuran, sih, sudah banyak).

Mau orang-orang teriak sekencang apa bahwa langkah ini tidak pro pembukaan lapangan pekerjaan seluas-luasnya, nyatanya asas efektivitas kini menjadi pilar sabda. Itu ada, itu terjadi, dan itu pasti.

Kalau ternyata sekarang pelaksanaanya belum sebegitu bagus dan malah bikin antrian jauh lebih mengular? Saya kira semua hal memang butuh waktu buat uji coba dan evaluasi, belajar dari yang salah itu sehat dan mendewasakan.