13 reasons why (day 23)

Pernah nonton The Butterfly Effect? Kali ini saya tidak akan membicarakan lebih jauh tentang substansi film tersebut, melainkan serial 13 Reasons Why. Satu hal yang perlu diketahui: pola pembentukan sebab-akibatnya sama.

Dalam The Butterfly Effect, disebutkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di satu tempat bisa mengakibatkan tornado di belahan dunia lain.

Dalam 13 Reasons Why, bercandaan seremeh apa pun terhadap seseorang, bisa berujung pada keputusan orang lain untuk mengakhiri hidupnya.

Ketika di awal kita sudah sadar bahwa ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi beban pikiran tiap orang, sudah semestinya kita sadar pula tentang pemilahan ekspresi mana yang boleh dikeluarkan dan mana yang sebaiknya ditahan demi kebaikan. Serial ini berkutat tentang bullying, rape culture, slut shaming, depresi, serta adiksi. Bahasan yang sangat berat itu dikemas dengan ritme “pelan-pelan menghanyutkan”. Penonton diajak untuk pelan-pelan merunut kejadian demi kejadian, tokoh demi tokoh, dengan panduan suara Hannah yang direkam dalam tape recorder. Hannah sejak awal sudah disebutkan bahwa dia mengakhiri hidupnya sendiri.

Motif yang kurang kentara di awal pelan-pelan menjadi semakin jelas dan menyakitkan, bersamaan dengan penonton yang mulai memahami tentang “apa yang terjadi” versi Hannah. Ini adalah serial yang penting. Lebih penting lagi karena berhasil meyakinkan penonton untuk tidak lagi menyalahkan korban, melainkan membuat semua orang harus berani melakukan introspeksi diri.

Sama halnya dengan penonton yang meskipun sudah tahu bahwa akhirnya akan ditunjukkan momen tragis yang dilalui Hannah, tetapi tetap saja refleks dibikin menangis tak terkendali ketika menyaksikan episode terakhir. Sekuat apa pun kita berargumen bahwa tindakan bunuh diri itu salah, tapi kalau sudah terjadi kita bisa apa? Jadilah ada untuk diri sendiri, jadilah ada untuk orang lain.