Jangan menumpuk (day 25)

Jangan biasakan menumpuk apa pun halnya.

Pertama, ketika kita mulai melakukannya, selanjutnya hal itu jadi terasa wajar.

Kedua, setelah muncul pikiran “wajar”, kita bisa dengan mudah dibuat melalaikan hal lain.

Ketiga, ketika sudah “lalai”, tiba-tiba berbagai hal lain ikut saling tumpuk.

Keempat, ketika sudah “saling tumpuk”, kita umumnya panik karena bingung harus menuntaskan yang mana dulu.

Kelima, setelah “panik” menyerang, opsinya cuma ada: kerjakan satu per satu atau relakan.

Keenam, dua opsi tersebut sama-sama tidak menguntungkan, salah satu implikasi terjelas: kita kehabisan waktu.

Ketujuh, ketika waktu dijadikan alasan atas kecerobohan, artinya kita sudah mulai menoleransi kebodohan diri sendiri.

Kedelapan, saat kondisi itu tiba, artinya kita sudah benar-benar terlambat.

Kesembilan, terlambat sebenarnya tidak benar-benar “berakhir”, tetapi umumnya hal ini akan berujung pada pengutukan diri sendiri, depresi, dan denial tanpa henti.

Kesepuluh, jangan biarkan hal itu terjadi, apalagi kalau sudah menjadi: lagi dan lagi.