Selingan (day 33)

ii
@31harimenulis

Beberapa waktu terakhir saya punya kebiasaan yang agak janggal, kadang bikin jengkel, dan sering bikin gagal paham.

Agaknya ini adalah dampak yang harus saya terima karena berbulan-bulan terus berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan sebundel tulisan. Sekali lagi ini jadi bukti kalau ditekan-tekan itu bikin senewen. Sebenarnya, ini bukan sepenuhnya salah si tugas; toh, saya sendiri juga masih sering memampatkan ritme di penghujung.

Intinya: saya jadi terbiasa mencari selingan.

Bentuk selingannya beda-beda: mulai dari yang tidak berbahaya seperti dikit-dikit break dan cari snack; yang cukup ga jelas misal impromptu ganggu adik saya; hingga yang butuh pengorbanan besar ambil contoh tidur habis mandi pagi/siang–padahal rencananya mandi itu supaya segar terus langsung bisa produktif.

Yang terakhir itu mengingatkan saya pada omongan orang-orang: habis mandi kok tidur, kayak bayi saja.

Faktanya, dengan berbagai keembuhan yang tiba-tiba bisa mendadak muncul, saya memang merasa semakin ke sini semakin pengin bertindak tanduk seperti bayi. Bahkan, saya berinisiatif mengubah panggilan adik saya menjadi mbak dan meminta dia memanggil saya: dik. Tindakan saya ini sudah berlangsung berbulan-bulan dan sudah membuat adik saya kesal berulangkali.

Tapi namanya juga berimprovisasi menjadi anak kecil, ketika orang lain makin kesal, saya pun makin senang. Sampai di sini, saya cukup bahagia bisa bermain peran di kehidupan nyata.

.

Selamat datang di Minggu kebiasaan.