iii
@31harimenulis
Masa kecil saya dipenuhi dengan rasa penasaran pada hal-hal ilmiah yang cukup bikin bangga kalau kembali dikenang. Ini cukup bertolak belakang dengan kondisi sekarang di mana saya jadi “leh leh luweh” pada perkara ilmu pengetahuan alam. Menjadi pengamat fenomena sosial lebih menggugah gairah.
Sebelum lebih jauh, tidak, saya belum pernah memenangkan kejuaraan sains, jadi tulisan ini bukan chauvinisme egosentris.
Mengurai seluruh ingatan akan jadi perkara yang panjang. Namun di sini, setidaknya akan saya sebutkan beberapa–dan akan saya buat berseri sepekan sekali.
Seri pertama, kamu akan kembali saya ingatkan dengan dua terma: herbarium dan taksidermi. Tipe saya adalah yang kering.
Mesti percaya, dulu saya hobi membuat keduanya. Herbarium adalah “karya seni” awetan (basah/kering) berbahan tumbuhan. Sedangkan taksidermi berbahan baku hewan.
Kala itu, saya membuatnya polosan berdasarkan insting. Tidak perlu melakukan riset mendalam sana-sini dan tentu saja tidak perlu berdebat panjang lebar. Yang penting adalah amati (dari gambar maupun tayangan) lalu praktikkan. Betapa dimanjakannya kesehatan otak periode itu.
Herbarium yang saya buat mayoritas adalah berbagai bentuk dedaunan. Dari ketela, belimbing, kenikir, hingga tentir. Saya keringkan sendiri daun-daunnya; saya bikin komposisi peletakan di frame karton DIY-nya; saya laminasi sendiri dengan mengunakan setrika (iya setrika yang buat fabric, ada teknik khusus). Terus begitu hingga hampir tiap pekan selalu nambah hiasan dinding baru–meski sekarang sudah tiada.
Sedangkan, untuk taksidermi saya melakukan spesifikasi pada spesies kupu-kupu. Ya, mulai dari yang kecil sampai yang raksasa; mulai dari yang jelek sampai yang bagus banget warnanya; mulai dari yang cacat fisik sampai yang masih lengkap sempurna. Perlu dimaklumi, saya membuat taksidermi ini dengan cukup ekstrim. Satu, saya menangkap sendiri kupu-kupunya menggunakam jaring raksasa. Dua, saya membedah sendiri “tubuh” kupu-kupunya supaya tidak membusuk. Tiga, saya menjejerkan sendiri semuanya di display setelah kering seluruhnya.
Ditimang kenangan, saya jadi pengin membuatnya lagi. Lumayan kelak bisa jadi opsi ngabuburit.