ix
@31harimenulis
Di dunia para penikmat serial televisi, ada istilah binge watching. Ini ditujukan untuk kebiasaan orang-orang dalam menonton sajian seri secara berturut-turut dalam satu tarikan. Istilah ini semakin populer setelah Netflix dan para penyedia jasa streaming hadir. Namun, kebiasaan ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, cuma memang tidak semasif sekarang.
Dulu orang-orang agak kesusahan mencari direktori tayangan yang pingin ditonton ulang. Opsinya paling mentok adalah mencari boxset DVD, itu pun sebarannya tidak bisa diandalkan. Untuk memutarnya pun harus di televisi yang dilengkapi dengan alat pembaca cakram padat. Bagi generasi sekarang, cara ini dianggap merepotkan, belum lagi ada potensi rusaknya kaset yang dipunyai. Karena satu dan lain hal, wajar kalau kemudian transisi dari distribusi konvensional ke distribusi digital sukses menciptakan kebiasaan baru. Cakram padat bergeser dari barang konsumsi ke barang koleksi.
Di era digital ini, direktori santapan tontonan luar biasa lengkapnya. Ada yang memilih untuk menontonnya secara daring dengan streaming, ada pula yang lebih memilih untuk menyimpan versi offline biar bisa ditonton nanti-nanti. Apa pun metode yang dipakai, umumnya ketika berkaitan dengan serial, binge watching selalu berlaku. Saya termasuk yang sering melakukannya.
Dua serial terakhir yang saya tonton nonstop adalah 13 Reasons Why dan Iron Fist. Dua-duanya diproduksi oleh Netflix. Mekanisme perilisan Netflix memang agak lain dari cable network: perusahaan berlogo huruf N warna merah ini langsung merilis seluruh episode-nya secara bersamaan. Cara inilah yang semakin memperparah binge watching menjangkiti siapa pun. Anggap saja satu judul serial punya tiga belas episode, dalam kasus saya, selama tiga belas jam saya bisa hanya terpaku pada layar–tentu dengan beberapa selingan ke wc maupun makan.
Begitu luasnya dunia perserialan ini, bahkan membuat saya lebih banyak menonton serial dibandingkan film dalam dua tahun terakhir. Padahal faktanya, saya tidak melulu binge watching. Kondisi di mana setiap hari di tiap pekan selalu ada episode baru dari berbagai judul serial produksi cable network turut andil dalam suplai santapan rutin saya. Jatuhnya, kebiasaan menonton ini sudah seperti resep dokter, minum pil dua/tiga kali sehari–kalau tidak minum, rasanya ada yang salah.