Gembira dua. sama rasa (day 39)

viii

@31harimenulis

Saya kepikiran menulis ini setelah tidak sengaja membaca caption post terbaru dari instagram Naufal, teman SMA saya. Kebetulan bahasannya cocok dengan jatah tema hari Sabtu.

Dia menyinggung bahwa yang bikin suatu organisasi bisa langgeng itu dua: pertama adalah kesamaan visi, kedua kenyamanan ketika di dalamnya. Dan di situ, praktiknya tidak egois harus memaksakan keduanya, salah satu saja yang terpenuhi itu sudah cukup. Saya sepakat.

Sejauh yang saya alami, saya hanya bergabung dan lanjut di organisasi yang mampu bikin saya nyaman. Artinya pegangan saya adalah pada syarat kedua. Kondisi ini sebenarnya sangat tertebak, karena saya pada dasarnya adalah manusia tipe pengamat, saya bisa dengan mudah membidik prediksi bahwa “tempat ini” nyaman atau tidak sejak dari impresi pertama.

Impresi permulaan nan nyaman ini sudah saya buktikan di beberapa perkumpulan yang masih berjalan sampai saat ini. Sebut saja Kaca-Padakacarma (alumni reporter remaja SKH Kedaulatan Rakyat), Ilmu Komunikasi UGM 2013, hingga Gamatechno. Tiga contoh tersebut mampu membuat saya berada di long-term relationship.

Di Kaca-Padakacarma, saya menemukan atmosfer yang selalu bikin kangen. Kangen dengan kedekatannya, kangen dengan bahan obrolannya yang bisa nyabang ke mana-mana, kangen dengan potensi besar orang-orangnya, kangen dengan keterbukaannya. Meskipun untuk saat ini secara struktural Kaca-Padakacarma tidak lagi mewujud, tetapi hubungan emosional antaranggotanya tetaplah terjalin–inilah yang membuat porsi kenyamanannya tetap stabil ada.

Di Komunikasi UGM 2013, saya merasakan kehangatan yang sama. Sejak hari pertama daftar ulang pasca diterima SNMPTN dan kami kebetulan memutuskan untuk nyari makan bersama di Foodcourt Gelanggang, saya waktu itu secara spontan bilang bahwa inilah momen adaptasi tercepat yang pernah saya rasakan. Rasanya sudah langsung akrab dan mengenal satu sama lain tanpa canggung. Bahkan, di arsip postingan awal tumblr ini, setiap libur semester saya selalu menyinggung perihal bahwa saya sudah tidak sabar bertemu lagi dengan orang-orang di dalamnya. Diversitas dan kesamaan frekuensi menjadi kunci utama. Meski isi pikirannya macam-macam, tetapi di sinilah saya mendapati bahwa setiap sikap dihargai–paling tidak saya selalu berusaha seperti itu (menghargai stand point tiap anggota).

Di Gamatechno, ceritanya agak lain. Ketika dua organisasi di atas sistemnya tidak terlalu formal, yang ini bentuknya perusahaan. Saya bisa masuk ke sini pun secara tidak sengaja karena dulu sempat melakukan wawancara untuk membuat artikel tugas reportase. Saya tiba-tiba ditawari untuk menjadi content writer. Sampai sekarang, artinya hampir dua tahun saya tergabung di bagian ini. Saya termasuk generasi awal yang ikut andil dalam pengarahan konten web ke tujuan tematis. Dari yang dulunya content writer “lepasan” cuma saya seorang, kini sudah ada beberapa orang tambahan. Dari yang dulu tema tulisannya susah-susah (pernah sampai ngomongin inflasi hingga stabilitas harga, padahal saya dari Ilmu Komunikasi, SMA saya dulu pun IPA) sampai akhirnya sekarang tema tulisannya sudah “jinak” karena lingkupnya sudah fokus ke dunia pengembangan sistem digital. Kalau saya tidak nyaman, tidak mungkin saya bisa selama ini “terikat kontrak” sebuah perusahaan.

Pada akhirnya, saya pun sadar bahwa nyaman berada di atas segalanya. Satu visi tapi kalau kondisinya terforsir pasti bakal berujung ngos-ngosan juga. Nyaman jugalah yang kelak menjadi patokan saya ketika “siapa tahu” mulai berminat untuk bekerja full-time di suatu tempat. Karena bagi saya, nyaman itu bisa instan terlihat, bukan karena dibiasakan.