x
@31harimenulis
Sepekan silam saya telah menuliskan tentang herbarium dan taksidermi di seri pertama. Pada seri kedua ini, pengisahan akan sedikit bergeser ke perkara ilmu alam lainnya. Saya menyebutnya dengan: merawat makhluk ciptaan Tuhan.
Sebagai orang yang masa kecilnya dibuat sangat tergila-gila dengan ilmu alam, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk beternak. Bukan beternak yang standar, misal ayam atau bebek atau ikan (meski saya pun pernah melakukannya), tetapi ternak yang saya lakukan dulu semasa SD adalah: ulat.
Jadi, sebelum lebih jauh, dulu ada satu kata yang membuat saya kegirangan: metamorfosis. Perubahan dari satu bentuk hewan ke bentuk dewasanya ini bikin saya penasaran untuk melihat lebih dekat dan detail prosesnya. Alhasil, dimulailah perburuan ini.
Awalnya saya sekadar mencari ulat yang sudah jadi kepompong. Kepompong yang biasanya menempel di daun maupun tembok ini saya pindahmediumkan ke “ruang isolasi” bikinan saya sendiri. Mereka saya taruh di semacam penampang dari tanah liat (yang biasanya buat bakar menyan) lalu saya lindungi dengan menggunakan gelas berposisi terbalik–biar tidak dikerubungi semut.
Oh, wujud kepompong-nya pun macam-macam: ada yang mulus berwarna glossy keemasan, ada yang tertutup bulu, ada yang kecoklatan mirip alien, ada yang hijau mirip daun, dan sebagainya.
Setelah sekian hari, satu demi satu kepompong bergantian terbuka. Wujud kupu-kupunya yang keluar beraneka ragam. Saya melihat secara langsung bagaimana mereka berusaha keluar dari cangkang dengan kondisi basah kuyup, tidak bisa langsung terbang–harus mengeringkan sayap terlebih dahulu. Kadang saya juga harus menyaksikan kejadian pilu di mana proses pengeringan yang dilakukan tidak berjalan sempurna sehingga kupu-kupu malang itu gagal terbang. Satu hal yang saya ingat, jangan sekali-kali sok baik mencoba membantu kupu-kupu saat mencoba keluar dari cangkang, kalau dibantu dia berpotensi cacat.
Setelah merasa puas dengan perburuan kepompong, saya semakin bersemangat untuk bertindak lebih jauh: berburu telur kupu-kupu sekaligus ulat! Telur itu saya peroleh dari yang pada menempel di dedaunan. Setelah menemukan, saya petik daunnya dan saya masukkan ke tempat penyimpanan supaya telurnya menetas di situ. Setelah telur menetas, ulat-ulat kecil itu saya pindahkan ke toples yang sudah diberi daun-daun segar–diganti-ganti tiap hari. Terus begitu sampai akhirnya mereka besar dan berubah menjadi kepompong.
Sama halnya dengan yang sudah berwujud ulat. Bedanya, yang ini (yang saya tangkap dalam bentuk ulat) langsung saya masukkan toples. Proses mereka menjadi kepompong jelas lebih cepat. Kalau mau lebih graphic, ulat yang saya tangkarkan ini wujudnya macam-macam: ada yang hijau polos ginuk-ginuk khas ulat jeruk, ada yang berbulu, ada pula yang jelek banget wujudnya. Tidak apa, sejelek-jeleknya dirimu di masa lalu, kelak bakal jadi kupu-kupu cantik.
Singkat cerita, kegiatan saya yang agaknya cukup nyentrik untuk anak seumuran kelas tiga/empat SD ini berlangsung cukup lama. Untungnya, bapak ibu saya tidak protes atau risih waktu itu. Malahan bapak saya kadang ikut membantu mencarikan daun-daun tertentu untuk makanan si ulat.