Ada dua peristiwa hari ini yang berhubungan dengan uang: 1) saya mulai main deposit altcoin ke bitcoin; dan 2) podcast Views yang dibawakan oleh David Dobrik dan Jason Nash juga membicarakan tentang uang.
Mekanisme dunia itu membingungkan. Dulu, saya mati-matian harus menyisihkan hampir semua uang saku yang saya punya demi membeli barang konsumsi rutin bulanan (terutama buku bacaan dan benda-benda filateli). Namun, semakin ke sini, intensitas saya membeli barang-barang tersebut semakin berkurang drastis. Berkurangnya itu justru berkebalikan dengan kondisi ekonomi saya saat ini.
Inilah yang bikin bingung: semakin saya bertambah umur, ada saja cara uang datang ke saya. Jumlahnya memang tidak seberapa, akan tetapi sangat cukup buat memenuhi hasrat impulsif dalam diri. Satu hal yang pasti, cara saya me-manage uang itu masih sama dengan dulu–pakai prioritas dan perhitungan untung rugi.
Dari pemenuhan hasrat itu, faktanya sama dengan yang diujarkan oleh David Dobrik. Dia berkata bahwa uang memang tidak bisa menghilangkan kesedihan maupun depresi, tapi uang bisa menghadirkan sesuatu yang membahagiakan (money buys happiness)–temporer sekalipun.
Sampai di titik ini saya sebetulnya mulai khawatir. Apa iya ini yang ditakutkan orang-orang ketika menjadi dewasa–secara usia? Ketika semua-semuanya tidak lepas dari yang namanya uang. Sama halnya ketika saya mulai berani deposit altcoin pada bitcoin–setelah sebelumnya cuma memilih pengendapan investasi–yang dicari adalah keuntungan.
Saya ingat betul bahwa dalam hidup ini yang saya cari adalah kebahagiaan, bukan kekayaan. Bahkan sering saya ucapkan itu kepada orang-orang. Tapi kembali lagi, mekanisme dunia itu bisa terlihat sangat asing, bisa jadi kebahagiaan itu hadir bersamaan dengan dampingan materi yang entah datang lewat mekanisme bagaimana. Coba saya jalani dulu seoptimalnya.