satu
@31harimenulis
Satu hal yang masih bikin saya heran pada diri sendiri adalah terpatrinya sikap “jangan menyesali apa pun”.
Bukan berarti saya jadi leh-leh luweh sesaat setelah melakukan kebodohan–karena jelas penyesalan sesaat itu pasti hadir. Namun, hampir bisa dipastikan kegamangan itu akan kembali menyeimbangkan diri tak lama kemudian. Lalu benak saya mulai menormalisasi apa yang barusan hadir dengan menganggapnya sebagai bagian dari proses.
Bagian dari proses itu termasuk dilemanya saya (kalau bisa dianggap dilema) dalam menjalani keseharian pasca 2017. Tahun itu menjadi tahun terakhir saya menyandang status mahasiswa Ilmu Komunikasi. Skripsi selesai dengan baik dan sesuai dengan tema kesukaan (film), pernah ke GMC dan RSGM karena gigi depan patah gara-gara kecelakaan tunggal habis hujan (yang bikin saya justru ga takut lagi ke dokter gigi, malahan ketagihan), sudah wisuda, dan dengan sadar diri memutuskan untuk mengikuti program EEC-nya Sanata Dharma selama dua tahun berikutnya.
Tampak rapi dan baik-baik saja jadwal hidupnya? Memang. Tapi ada anomalinya.
Saya merasa kosong, meskipun saya cukup yakin bahwa pribadi ini tidak hobi membanding-bandingkan capaian diri dengan orang lain. Ketika teman-teman seangkatan mulai pada berkerja di perusahaan atau langsung melanjutkan S2, saya dengan sangat sadar tidak berminat mengikuti rute yang sama. Padahal saya termasuk kompetitif untuk masalah yang bisa diukur, belasan tahun saya begitu. Padahal, ada beberapa teman yang rutin ngajak saya ngobrolin prospek kerjaan bareng secara blak-blakan. Akan tetapi ya itu… saya tidak ada niat sampingan selain berjumpa mereka, selain karena senang ngobrol sama manusia lain.
Saya merasa kosong, meskipun saya masih rutin menonton, membaca, dan mendengarkan media. Saya masih Aef yang hobi nonton film dan serial tiap hari. Masih juga haus sama podcast-podcast pop culture yang kebetulan dibawakan oleh figur-figur favoritnya dari YouTube. Sesekali tetap berusaha menulis review film untuk webnya (yang sayangnya sampai hari ini masih ditetapkan berstatus “hiatus” entah sampai kapan).
Saya merasa kosong, meskipun hampir tidak ada yang berubah dari saya–setidaknya itu yang saya pahami. Janggalnya, saya tidak menyesali apa pun. Saya anggap semua itu sebagai refleks alamiah dan naluriah dari tubuh serta feeling saya dalam membawa “apa pun” yang orang lain sebut sebagai “takdir” kembali ke pangkuan–nantinya. Entah mungkin itu abstrak maupun cetho welo-welo.
Satu yang pasti, sampai detik ini, 1 Mei 2020, saya masih tidak tahu kapan raga saya akan mengkonfrontasi “kekosongan” tahunan itu sambil bilang “cukup” lalu langsung ambil langkah terbirit-birit mengejar ambisi yang lain.
Selagi menunggu, saya sekarang punya 30 hari ke depan untuk (setidaknya) kembali konsisten menulis, suatu terapi batin yang sudah cukup lama absen. Suatu terapi batin mengisi blog yang sepanjang 2018 (penuh) sukses saya tinggalkan. Bisa-bisanya, lho!