Singkat cerita, saya baru saja mengeluarkan rangkaian pernyataan sikap melalui platform twitter. Bunyinya begini:
1
Kenapa sih orang Indonesia terobsesi banget sama baju berkerah?
Sebagai orang yang ga suka jenis pakaian itu dan selalu milih pake round-neck/kaos/hoodie/sebangsanya, I can’t comprehend.
2
Opo meneh kalau ada orang yang bilang, “Kok mung kaosan/sweater/hoodie-an? Ra sopan.”
Preketek…
Otak orang² ki sudah teracuni kalau formal tuh “mesti gitu”. Padahal awalnya yg begitu itu terjadi karena influence bosnya/orang yg punya kuasa lebih. Njuk diimitasi.
3
Aku ga against baju berkerah ya, cuma sengit aja sama orang yang mindset-nya “formal ki ya begitu sampe besok oyoten”.
Mbok jangan naif² banget.
4
Makanya aku ngakak waktu nemu komentar, “Kalau bank ya pasti begitu dresscode-nya, tempat ini gini, blablabla.”
Enggak, lho. Itu ga pakem
Phil pernah ngomongin ttg ini, bertolak dari fenomena “formal dresscode” di dunia banking & tech pasca krismon 2008
https://t.co/UgHiLblFYP
***
Utas tersebut muncul karena saya merasa risih dengan serangan yang dialamatkan kepada (outfit) salah satu anak presiden ketika menghadiri solat jenazah isteri seorang mantan presiden. Toh bagi saya pribadi, pakaian yang ia kenakan tetap tergolong rapi dan respectful; tidak perlulah mendewa-dewakan baju berkerah. Pede dan nyaman adalah yang utama.