Oregano | Sabtu Tanam

dua

@31harimenulis

Sebulan yang lalu genap tiga pekan saya memutuskan mendekam di rumah ngawekani bahaya penularan virus corona–karena simbah yang sudah berusia sangat lanjut, 90 tahun lebih, tinggal serumah. Dirambati kegelisahan sebab merasa tak produktif, saya mendapati resep masakan di TikTok yang salah satu langkah pembuatannya adalah dengan menaburkan oregano.

Jelas di rumah saya ga ada stok dedaunan herbal itu. Apa yang saya lakukan? Apa lagi kalau bukan buka Shopee.

Tiga menit pertama pencarian etalase saya menemukan oregano siap konsumsi. Dari yang kemasan botol harga belasan ribu sampai yang kemasan plastik (udah kayak ganja giling) berbanderol jauh lebih murah.

Semenit berikutnya saya ga sengaja geser daftar “produk serupa” dan mendapati benihnya. Dari situlah saya kemudian memutuskan: marilah berkebun!

Proses pembelian benih online (tak cuma belanja biji oregano, terbukti daftar check out-nya sampai keisi 17 jenis bakal tanaman lain), tanah dan campurannya, serta wadah penyemaian ternyata memakan waktu dua pekan sendiri.

Ya mumpung semuanya (terutama niat) masih hangat-hangat tanakan nasi, saya begitu menggebu-gebu tetap ingin menggarapnya. Hasilnya? Banyak tanaman nonherbal yang tidak banyak cincong buat tumbuh… Sayangnya, hal itu kayak muskil buat terjadi pada oregano, thyme, basil, dan sebangsanya.

Saya serasa diledekin. Berhari-hari menunggu ternyata hasilnya masih nol untuk jenis mereka. Saya sampai nyoba dua metode penyemaian yang berbeda tapi tetap bernasib sama. Cuma basil yang tidak gengsian–itu pun baru sukses di percobaan kedua sepekan silam.

Jadi, pembelajaran buat orang yang ingin atau malah sudah berkebun amatiran kayak saya: nanam herbs itu ternyata ga gampang. Apalagi kalau dimulai dari benih bukan bibit. Mana ukuran biji-bijiannya sehalus debu. Cuma alam dan semesta yang tahu apakah benih-benih yang sudah saya tebar di media tanam itu memang belum tumbuh ataukah malah sudah membusuk.

Tak sabar buat memanen–meskipun itu masih sangat jauh ke depan!