Tingal

Relasi saya dengan kaca mata semakin kompromis dari waktu ke waktu.

Saya memakai gawai ini sudah sejak SMP. Sebenarnya kesadaran atas mata yang telah minus sudah muncul ketika SD kelas empat. Waktu itu saya mulai tidak bisa melihat dengan jelas yang mengakibatkan saya mesti melihat catatan teman sebelah supaya bisa memahami apa yang tertera di papan tulis.

Penyebab kelainan mata ini pun tidak bisa sepenuhnya saya sandarkan pada argumen “keturunan”–meskipun keluarga dari ibuk memang semuanya bermata empat. Di kasus saya, itu kombinasi genetik, hobi baca (dengan posisi tidak sehat), dan kecerobohan. Kecerobohan ini lebih bikin tepok jidat dibanding dengan posisi kurang baik dalam membaca, sebab: menyadari mata yang mulai rabun, saya sok ngide mencari pecahan lensa sebagai alat bantu penglihatan. Pemakaiannya berbulan-bulan–dan lanjut sampai kelas enam.

Little did I know, It was a very stupid move. Pecahan yang selama itu “membantu”, ternyata minusnya empat. Dari yang mulanya bisa jadi cuma minus di bawah satu, masuk SMP saya pertama kali cek mata dan langsung kepala empat gara-gara sepotong kaca yang gedhe-nya tidak sampai sekuku jempol tangan. Kenapa baru SMP ngeceknya? Karena di masa SD tidak ada teman sebaya yang pakai kaca mata; kan ya saya masih isinan kala itu.

Dengan sedikit akal bulus, akhirnya menjelang masuk SMP saya “ajak” bapak saya buat iseng cek mata. Dan ya orang tua tentu kaget ketika tahu tiba-tiba mata saya sudah separah itu–dan tidak bilang.

Di masa awal, lensa yang bertengger selalu yang kaca. Yang kalau jatuh langsung pecah. Berkali-kali hal itu terjadi. Di tiga tahun pertama itu, frame-nya tidak pernah berganti, tapi kacanya rutin mondok karena terjun sekian kali.

Masuk SMA, saya beberapa kali ganti frame. Problem kali ini kombinasi frame dan lensa. Entah kaca pecah, gagang patah, dudukan lepas, renggang, dan sebagainya. Periode terewel, period.

Barulah di masuk kuliah saya ganti lensa kaca dengan fiber (minus naik ke lima). Jelas lebih ringan dan lebih awet. Tapi yang bikin capek lahir batin adalah frame-nya. Ia berkali-kali ganti yang mayoritas disebabkan karena patah (baik di gagang maupun di bingkai lensa-nya).

Lucunya, di kuliahan ini saya semakin luweh. Kalau misal patahnya masih bisa saya perbaiki (lem G), ya mending saya lem saja. Dan inilah yang terjadi di kaca mata terakhir saya–sebelum Minggu kemarin beli baru. Bingkai tempat lensanya sudah patah kanan kiri, tapi karena masih bisa saya lem, selama tiga tahun terakhir saya kekeuh pakai barang yang sama.

Dan datanglah Minggu kemarin, mumpung adik saya ganti kaca mata, saya ikut-ikutanlah. Sekalian cek mata dan menyesuaikan lensa dengan hasil tes terbaru. Ternyata sekarang sudah ke enam. Maka lensanya saya minta dinaikkan ke 5,5 saja (sebelumnya selama kuliah selalu pakai yang lima). Plus, saya minta agar silinder-nya juga dipasang, sebab selama ini sengaja diabaikan mengingat masih kecil kenanya.

Hari ini saya sudah pegang gawai baru. Mata masih menyesuaikan, jadi belum akan saya pakai di keseharian (di luar) sampai proses adaptasinya selesai. Selagi menunggu, saya bakal gunakan yang lama dan baru secara bergantian ketika di rumah.

Saya sempat lupa, eh, ternyata begini rasanya “memperbarui” pengelihatan.