Konsekuen dengan apa yang terlontarkan secara verbal kepada orang lain adalah hal yang saya pegang teguh. Syaratnya: apa yang keluar memang saya anggap layak dibela. Meski hal itu akan membuat saya “menderita” sekian waktu.
Di bagian lain, ada pula hal yang dengan mudah saya maklumi. Yang seringkali berupa hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi nyatanya memang wujudnya begitu. Kemampuan kontrol yang kedua ini harus saya pelajari bertahun-tahun hingga akhirnya bisa “nerimo”.
Cerita singkatnya, dari dulu saya selalu mematok level terbaik dari apa yang saya lakukan. Dari patokan itu, jelas selalu ada aspirasi di mana hasilnya juga mesti bagus. Namun, namanya juga hidup, beberapa kali output yang ada bisa di luar dugaaan.
Di periode awal dulu, saya sering menyalahkan diri sendiri ketika hal itu terjadi. Baru di tahun-tahun berikutnya saya sadar bahwa perilaku itu tidak baik bagi tubuh, dan tidak perlu juga.
Pelan-pelan saya belajar untuk “yaudahlah, toh sudah terjadi, dan karena memang itu hasil dari tindakan yang sebelumnya dengan percaya diri diambil”.
Tidak hanya menjadi nerimo di banyak kesempatan, saya pun mulai bisa menertawakan simpangan-simpangan yang ada itu. Jadi, mulai ada banyak materi olok-olok buat pribadi ini biar ga serius terus jalannya.
Dan sore tadi terjadi lagi.
Ternyata hasil progress test kedua dari kelas Structure D bikin saya ngakak, sebabnya ya begitulah. Di bagian positifnya, saya menerima hasil itu dengan tanpa perasaan bersalah, orang udah terjadi juga, pun dari awal sudah sadar diri bahwa kelas ini adalah kelas yang paling njelei bagi saya.