Menunggu (day 65)

Entah “kemampuan” ini turunan dari mana, tetapi saya cukup yakin bisa masuk kategori orang yang ahli menunggu. Sampai ke level “ahli” sebab sejauh yang saya ingat, selama apa pun durasinya saya tidak pernah sampai benar-benar murka ketika berada di proses itu. Ditambah, selama ini saya juga terlatih untuk tidak mau direpotkan dengan keharusan mencari lawan bicara kalau sedang “menunggu” itu–kalau tiba-tiba diajak ngobrol pun saya tidak keberatan.

Bahkan kalaupun saya tidak membawa hp–yang biasanya bisa dijadikan kedok biar kelihatan sibuk–saya masih sanggup menunggu dalam diam. Di kondisi semacam itu saya bisa memilih untuk mengedarkan pandangan ke mana pun–mengamati orang-orang di sekitar–maupun disibukkan dengan pikiran sendiri yang seringkali memang sudah cukup ramai–ada saja kilatan pikiran impromptu yang mampir.

Skenario di atas berlaku buat di ruang-ruang publik. Kondisinya bisa cukup lain kalau saya sedang berada di ruang privat–rumah misalnya. Wujud yang ditunggu juga bisa beda, bukan lagi orang. Bisa saja menantikan paket datang, menantikan video baru di dasbor YouTube, dan kalau sekarang adalah menantikan jadwal sidang yang tak kunjung datang. Bukan apa-apa, hanya saja saking santainya saya “menunggu” ini, justru bikin saya semakin berjarak dengan: kapan terakhir kali baca bundel skripsi. Kalau misalnya tambah lama, semakin lupalah saya pada apa yang tertulis di dalamnya.