Katanya hari ini ujian mandiri UGM. Pantas saja jalanan Jogja macet berat, terutama jalan-jalan utamanya–yang sialnya harus saya lewati kalau mau balik ke rumah. Masih lagi ditambah dengan banyaknya bus-bus ukuran sedang sampai besar yang mengangkut para jamaah berbagai daerah yang melakukan safari ziarah. Agaknya keputusan saya untuk “safari” ke Kota Yogyakarta hari ini lumayan salah langkah.
Jangan salah, sebetulnya saya termasuk golongan yang suka dengan kemacetan Jogja–sampai di level normal. Kalau mau ditarik mundur ke belakang, waktu saya KKN tahun lalu, salah satu poin tulisan yang bikin saya kangen Jogja adalah macetnya. Macet yang kadang bikin pengin mengutuk-ngutuk, terkadang pula bikin saya hanyut dalam urusan domestik di dalam pikiran. Hari ini macetnya lain.
Demi apa, melewati Jalan Jogja Solo dari Fly Over Janti sampai pertigaan Bandara Adisutjipto yang jaraknya tidak seberapa itu saja butuh waktu nyaris sejam. Semua moda ada di situ, dari motor, truk, truk raksasa, mini bus, bus, mobil, sepeda, becak motor, hingga gerobak penjual bakso. Sudah tahu jalan Jogja itu sempit, apalagi ini musim ujian dan musim ziarah, plus jembatan dekat bandara sedang diperbaiki separonya, kenapa pada numpuk di situ, sih?
Kesialan ini sampai bikin saya capek duduk. Sampai bikin saya amnesia kenapa biasanya saya suka macetnya jalanan Jogja. Sampai bikin lupa kenapa kalau di jalan justru pikiran saya dipenuhi oleh banyak ide-ide menarik. Hari ini, semua itu meranggas.