Casey Neistat menulis begini di akun twitter-nya, “booing at a netflix logo? film distribution can take different forms. let go of the past, the future is here.” Tanggapan itu muncul menyikapi artikel dari laman daring Independent berikut: https://t.co/npWfHpIoUb
Di dalam artikel tersebut, dijelaskan bahwa salah satu petinggi Cannes membuka perang dingin dengan distributor tayangan daring (di sini Netflix); dan para penonton film Okja (yang hak edarnya dibeli oleh Netflix) menyoraki logo Netflix ketika muncul di layar (menghujani dengan “boo”) serta semakin menjadi-jadi setelah film berjalan sekian menit ternyata terjadi kesalahan teknis di mana aspect ratio proyektor yang digunakan salah sehingga membuat gambar terpotong. Sampai di sini, jelas ya, tentang apa yang terjadi, siapa yang melakukan apa.
Casey memberikan tanggapan yang saya pun sepakat dengan maksudnya. Di situ Casey menekankan bahwa mengolok-olok logo Netflix karena dia adalah perusahaan digital, bukan konvensional, adalah tindakan yang keliru. Distribusi digital adalah “masa depan” yang memang tidak bisa dihindari. Tentu saja hal ini tidak mudah bagi orang-orang yang masih menggunakan skema berbisnis ala lama. Saya pun paham ketika masih ada orang yang dengan senang hati mengumbar sentimen negatifnya terhadap “distributor alternatif” ini. Terkait orang-orang semacam ini, saya tidak akan berkomentar banyak, saya cuma ingin bilang bahwa eksistensi mereka ke depannya cepat-lambat bakal susut. Tidak terlalu ada masalah di sini, toh kebebasan beropini memang dijamin.
Sayangnya, dukungan dari Casey ini masih saja banyak disalahartikan oleh netizen lewat menu reply. Silakan cek kolom reply dari tweet tersebut. Di situ paling tidak ada sekian nama yang ngotot bilang bahwa Casey tidak membaca secara utuh.
Dalam hati, saya pengin ngamuk: lha dirimu udah baca belum statusnya Casey dengan utuh?
Sebab, di situ sudah tertera dengan mentereng bahwa yang jadi fokus Casey adalah aksi “boo” ketika logo Netflix muncul di awal film. Casey di sini tidak ambil peduli dengan “boo” kedua ketika terjadi masalah teknis sampai-sampai membuat kondisi di dalam studio tidak kondusif–pengaturan aspect ratio yang salah.
Dengan fakta tersebut, saya kembali menekankan bahwa membaca konteks itu penting. Hanya karena kamu tidak setuju pada suatu hal, bukan berarti kamu benar secara fakta publik.