Tulisan ini hadir karena saya tidak kunjung menerima email berisikan jadwal sidang. Padahal berkas sudah terdaftar sejak pekan lalu. Gara-gara ini pula, pikiran saya jadi ke mana-mana dan utamanya teringat pada proses panjang skripsi yang saya lalui. Lebih spesifik lagi, berkaitan dengan sesi-sesi bimbingan.
Di ingatan saya, ternyata skripsi itu tidak sengeri kata orang-orang. Capek? Iya. Capek banget? Iya. Akan tetapi capek itu wajar karena memang ini adalah konsekuensi dari proses yang serius. Dan di sini capek tidak bersinonim dengan kengerian. Pun sejak awal saya memang mendedikasikan skripsi yang saya kerjakan sebagai kado buat diri sendiri, sebisa mungkin dikerjakan tenanan dan tetap bikin pribadi bahagia–karena objeknya saya pilih sepersonal mungkin.
Dari proses panjang itu, bagian paling menarik yang saya alami adalah ketika mengerjakan Bab IV. Bab paling bikin senewen–selain karena jumlah halamannya paling banyak, ini juga bab yang bakal menunjukkan “siapa kita”. Lebih-lebih karena penelitian saya berada di ranah kualitatif.
Saya ingat betul salah satu kalimat yang sempat dilontarkan oleh dosen pembimbing, “Bab ini saya ga bisa berkomentar banyak karena interpretasi tiap orang bisa beda-beda.”
Dan memang betul, sejauh ini, ketika berkaitan dengan revisi bab analisis, dosbing saya sekadar meminta perbaikan susunan bagian hierarki, kadang request buat menambah sub-bab khusus penutup bab–kadang malah saya yang request nambahin. Itu saja. Saya bilang bahwa revisinya tidak pernah mayor.
Saya bersyukur karena mendapat dosbing yang satu frekuensi. Sejak awal, anak bimbingannya memang diarahkan untuk “percaya diri” dengan temuan yang telah diperoleh. Kalau baru memahami metode A sampai di level permukaan misalnya, tidak masalah. Dosbing tidak akan mendikte seharusnya begini-begini. Justru dia konsisten menyarankan kami buat membaca sambil jalan referensi-referensi lainnya, kadang memberikan beberapa istilah yang turut bisa ditelusur lebih lanjut.
Dampak dari sistem bimbingan yang seperti ini, saya jadi benar-benar paham tentang “arah” skripsi ini mau ke mana, kalau begini harus ditambahi apa, kalau kurang akomodatif harus saya modifikasi seperti apa. Seringkali saya bahkan inisiatif menambahi teori di tengah jalan karena habis membaca jurnal baru dan merasa isinya nyambung dengan penelitian saya–berkali-kali terjadi, bahkan terakhir saya menambahkan satu teori psikologi ketika Bab IV sudah hampir selesai.
Pada akhirnya, saya paham bahwa skripsi ini buat saya pribadi tidak lagi sebagai perwujudan formalitas, melainkan rangkaian proses yang ketika diingat memang layak direnungkan. Ada kepuasan tersendiri ketika membandingkan saya di awal dan di akhir proses itu. Puas yang hadir karena di sini saya merasa proaktif dalam menjadikan diri ini “paham”.