Tulisan ini adalah “calon” review film yang lebih panjang yang akan saya selesaikan besok. Hasil akhir nantinya bakal tampil di ngepop.com
***
Apa sifat dasar manusia selain makan, berpikir, dan bertahan hidup? Film Gifted memberikan jawabannya: gumunan–takjub pada suatu hal. Sifat ini umum terjadi sejak manusia masih belia sampai sudah manula. Coba ingat-ingat: anak kecil umum takjub pada pesawat yang melintas di angkasa; remaja takjub dengan kesuksesan orang-orang yang memperoleh julukan sebagai role model; orang tua takjub dengan perkembangan zaman yang semakin susah mereka ikuti.
Gifted sesungguhnya bukan film yang muluk-muluk. Flow-nya tidak ngoyo, bahkan pemberian porsi karakternya sengaja dibatasi biar tidak melebar ke mana-mana. Justru karena itulah, peyajiannya jadi begitu ringan tetapi berhasil tampil subtil. Gagasan yang diangkat sukses membuka mata dan menyadarkan penontonnya tentang isu yang selama ini terlalu sering menyilaukan: perlakuan terhadap bakat inteligensia.
Wajar kalau manusia takjub pada kemampuan otak orang lain yang kebetulan berada di level jenius. Sayangnya, karena rasa kagum berlebihan inilah, orang-orang jadi umum paranoid dan begitu saja mencoba mengarahkan “mereka–jenius” ke kelompok keterasingan–nantinya digelonggong dengan rumus-rumus, ditempatkan di sekolah khusus, dan sebagainya. Alasannya: biar mereka bisa berkembang sampai di level potensi terbaiknya. Sayangnya, kadang lingkungan “terbaik” itu hanya paham aspek otak tanpa memberi kuota mencukupi bagi aspek kehidupan.
Anak-anak yang sudah terlanjur dicap jenius tadi dianggap tidak perlu memperoleh paparan pergaulan secara “wajar”–bermain dengan teman sebaya, apresiasi orang lain, menghargai diri sendiri, dan semacamnya. Gifted menyajikan kontradiksi dan implikasi terhadap tendensi masyarakat kita terhadap permasalahan ini begitu fasih.
Film ini tidak mau mengajari, justru memberikan segepok kemungkinan-kemungkinan, pilihan-pilihan, yang lalu membiarkan penonton untuk menentukan sendiri mau berdiri di pihak mana. Tidak ada penghakiman di akhir, yang ada hanyalah kemenangan nurani satu pilihan terhadap pilihan lain. Kemenangan yang tidak untuk dijadikan ajang huru-hara, justru dijadikan ajang bersama untuk sama-sama mengembalikan “rasa” diri kita serta “hak berbicara” milik “mereka”.
Sembilan dari sepuluh bintang.