xxxi
@31harimenulis
Akhirnya sudah di akhir.
Dari apa yang telah berulang kali saya alami, cara terbaik untuk menyukseskan sebuah proyek adalah sesegara mungkin memulainya.
Oke, mendahului proyek dengan rangkaian perencanaan memang langkah yang baik, bijak malah. Perencanaan membuat kita tahu apa pro dan kontra (baik dari diri sendiri maupun “kemungkinan” dari orang lain) yang ke depannya bisa timbul. Perencanaan juga bisa mencegah proyek berhenti begitu saja di tengah jalan. Namun, perlu diingat bahwa dirimu harus yakin betul bahwa perencanaan itu tidak hanya bertindak sebagai excuse buat menunda-nunda pelaksanaan. Mencari-cari cara biar tidak segera miwiti suatu hal hanya akan membuat asa-asa yang ada sebelumnya berfermentasi menjadi basi.
Langsung “bertindak” itu berlaku di banyak lini: mulai menulis, mulai bikin video, mulai bikin proyek kanal, mulai bikin hal-hal luar biasa lainnya. Kaitannya dengan sekarang, menulis, kegiatan ini tidak akan bisa jadi apa-apa kalau tidak telaten dilakukan sejak permulaan. Maka penting untuk “memaksa diri” supaya mau nulis berkelanjutan, hingga di waktu-waktu setelahnya otomatis menjadi kebiasaan. Menjadi pembelajaran.
Di awal mungkin bisa dimulai dengan tulisan pendek, kadang bisa diselingi dengan yang agak panjang. Yang perlu dihindari adalah menggarap proyek yang telah diidam-idamkan justru secara serampangan, mengisi tenggat karena alasan formalitas, karena alasan sedang tidak selera, karena alasan malu-malu. Kalau itu yang terjadi, jangankan progresif, jalan di tempat saja kayaknya masih belum kuat ngangkat kaki.
Di hari terakhir ini, saya kira euforia memang wajib ada. Paling tidak, dalam hal ini refleksi adalah salah satu wujudnya. Selamat karena telah konsekuen menutup “kewajiban” proyek, semoga kita masih bisa bersua lewat tulisan-tulisan lainnya di hari-hari berikutnya. Sayonara!