Lewat tulisan (day 61)

xxx

@31harimenulis

Dua hari menjelang penghujung. Bukan berarti setelah 31harimenulis selesai saya pun ikut selesai mengunggah tulisan di sini. Saya tetap akan melanjutkannya sampai saya kembali berada di titik “sepertinya harus rehat”. Selama titik itu belum menghampiri, tidak ada alasan untuk saya berhenti menulis harian. Dan lagi, proyek massal sebulan tersebut kebetulan hanya bagian kecil dari janji kembalinya saya di ruang berbagi ini.

Saya tidak akan bosan berujar bahwa menulis adalah satu-satunya kegiatan yang tidak pernah mengecewakan diri ini. Tidak pernah mengkhianati saya. Tidak pernah terputus. Tidak pernah jadi ngrepoti.

Tulisan bagi saya adalah identitas.

Dari tulisanlah kita bisa membaca karakter seseorang seutuhnya. Tentang dedikasi mereka, tentang ogah-ogahannya mereka, tentang tidak seriusnya mereka, tentang susah dipegangnya mereka, tentang persona tersembunyi mereka yang hanya bisa tampak ketika polanya sudah terbaca dari beberapa tumpahan kata-katanya.

Kalau mau menjadi anonim yang baik, jangan pernah tinggalkan jejak tulisan pada dunia. Ujaran yang selalu saya yakini ini didukung pula oleh pernyataan dosen pembimbing skripsi saya beberapa hari silam bermakna serupa. Orang bisa kelihatan pintarnya lewat tulisan, orang juga bisa kelihatan bodohnya lewat tulisan.

Itulah mengapa kegiatan lain favorit saya selain menulis adalah membaca tulisan orang lain. Itulah mengapa beberapa kali dalam sebulan belakangan saya sempat berkomentar di tulisan teman-teman karena saya merasa “identitas”-nya berubah–bukan bermaksud aneh-aneh, tetapi karena saya merasa perlu memperoleh konfirmasi. Itulah mengapa saya bisa membaca apakah tulisan benar-benar tulus keluar dari alam bawah sadar, ataukah sengaja dibuat cuma sekadar untuk membuat orang lain impressed.

Terima kasih kepada para peserta yang telah memperbolehkan saya untuk “membaca identitas” dengan lebih jujur.