xxix
@31harimenulis
Tiga hari menuju pamungkas. Khusus untuk sisa waktu proyek ini, saya akan bergeser dari “penjadwalan bahasan reguler” ke “retrospeksi”. Hitung-hitung sebagai ajang bersyukur sebab masih bisa memenuhi tenggat sampai hari ini.
Di awal mengikuti proyek ini untuk kali kedua, saya tidak punya bayangan mau dijadikan seperti apa tulisan-tulisannya. Saya bahkan waktu itu sampai mencoba mengingat-ingat dulu di periode pertama hal apa yang jadi pertimbangan utama. Hingga akhirnya, ada satu formula yang kembali saya gunakan kali ini: adanya bahan khusus untuk setiap harinya. Gambaran mudahnya, misal di hari Senin saya menulis tentang masa kecil, maka Senin-Senin berikutnya selama masa proyek akan diisi oleh tulisan bertema serupa.
Di lain hal, tantangan kali ini saya rasakan lebih berat dari sebelumnya. Faktor utamanya karena kali ini saya tidak sesibuk dulu. Kegiatan harian saya lebih monoton, pun keluar rumah jadi lebih jarang–sekalinya keluar paling-paling cuma bimbingan skripsi maupun ambil kelas gratis dari CDC Fisipol. Satu-satunya hal yang masih rutin saya lakukan adalah menonton apa pun setiap harinya: vlog, film, dan serial. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya tidak mungkin menulis tentang hal tersebut setiap harinya.
Bermula dari terlalu banyaknya pertimbangan yang ada, 31harimenulis kali ini harus saya akui berjalan dengan sangat meraba-raba. Saya termasuk jarang membuat tulisan yang langsung menyentuh ranah aktualitas. Kebanyakan yang muncul justru berupa tulisan reflektif-kontemplasi serta nostalgia. Iya, sangat domestik.
Namun, gara-gara inilah justru saya merasa lebih berusaha memahami diri sendiri. Memang tidak akan menjadi 31 hari yang “sempurna”, saya sadari itu. Paling tidak kegiatan ini masih mampu mencegah penumpulan daya pikir.