Lupa (day 57)

xxvi

@31harimenulis

Salah satu kutipan terfavorit yang pernah saya sebut di postingan tumblr ini–waktu unggahnya sudah sekian tahun lamanya–adalah “manusia itu pemaaf dan pelupa”.

Perlu dicatat, itu bukan buah perkataan saya. Saya pertama kali mendengarnya dari cerita panjang Mas Agung pada suatu petang di sekre Kaca–saya tidak bisa menjamin apakah itu murni dari Mas Agung ataukah sekadar menyelamatkan tongkat estafet, yang jelas saya pertama kali mendengar darinya.

Kalimat pendek tersebut menggambarkan dengan sangat presisi mengapa manusia itu begitu paradoks. Dan saya merasakan relasi yang begitu kuat–lagi–dalam dua hari belakangan. Utamanya ketika linimasa saya dibanjiri oleh sangat banyaknya opini yang diumbar orang-orang di mana-mana berkaitan dengan Ahok dan kasus hukumnya. Saking banyaknya tulisan yang bertebaran, saya sampai eneg melihatnya.

Memang sudah jadi rahasia umum kalau sekarang ini orang-orang suka aji mumpung tanpa lihat kapasitas diri. Yang penting unggah wani nekat, berdoa semoga viral, tanpa peduli betapa bolong logikanya. Ini banyak terjadi.

Namun, kenapa saya sampai terpikir untuk memanggil kembali “manusia itu pemaaf dan pelupa”? Sebabnya, ada satu generalisasi pemikiran yang tiba-tiba saja begitu populer belakangan yang sungguh mengusik nalar saya.

Ada ucapan (beragam bentuk tapi berkonteks sama) yang menyebut bahwa: berlebihan nyebut kasus Ahok sebagai hukum sudah mati, selama ini ke mana saja?

Apa yang salah di situ? Secara sekilas memang tidak tampak adanya problema. Akan tetapi tidak begitu saja berlaku kalau kita mau berpikir sedikit lebuh jauh ke belakang: apa iya begitu?

Kita tidak bisa menyebut bahwa “respons besar” di masa lalu lebih melempem dibanding sekarang kalau patokan kita hanya di era kini. Saya kira, teriakan-teriakan tentang kejanggalan proses hukum ini sama lantangnya dengan yang terjadi di kasus-kasus lain sebelumnya. Yang penting sekarang adalah, seberapa baik kita bisa melempar kembali pikiran kita ke konteks masa silam. Ketidakadilan hukum sejak dulu sudah jadi salah satu bahan vokal. Kalau dirimu berpikir sebaliknya dengan tidak melihat efek sekuens pengabaian keadilan yang ada, kemungkinannya cuma ada dua hal: “sudah ‘memaafkan’” dan/atau “sengaja ‘melupakan’”.