xxv
@31harimenulis
Jack memberi harapan bagi setiap remaja yang saat ini masih berjuang buat berani melewati fasenya.
Bahwa tidak ada aturan baku yang berlaku universal tentang bagaimana melewati sesi awal pencarian pengakuan ini. Dan tidak ada paksaan pula bahwa setiap orang harus melaluinya dengan sempurna–tidak wajib jadi jagoan, tidak salah menjadi penakut di beberapa hal. Bahkan indikatornya saja sangat intrapersonal–hanya diri sendiri yang tahu ingin menjadi sejauh apa. Di film King Jack, penonton dipandu untuk memaklumi hal ini via pilihan sikap tiap tokohnya.
Dari Jack yang menjadi anomali, penuh tanda tanya iya dan tidak. Si Ibu yang emosinya suportif, paham betul bagaimana untuk bersikap sewajarnya. Sang Kakak yang sebenarnya tingkat kedewasaannya masih ngambang namun harus berlagak bisa–tapi di urusan lain dia benar-benar pahlawan. Sepupunya yang menjadi variabel utama dalam perjalanan ini, yang paling bisa mengambil simpati. Para cewek di sekeliling Jack yang kesemuanya dilematis. Pun gerombolan pem-bully Jack yang bikin pikiran saya terus bekerja keras–karena sampai hari ini saya masih tidak paham kenapa ada orang yang memilih bermental seperti itu.
Elemen-elemen penting yang berperan menjadikan sebuah film menjadi istimewa sudah digenggam King Jack. Untunglah para penggawa teknisnya paham bagaimana harus memperlakukan material semacam ini. Melalui eksekusi visual yang kalem–filter gambarnya sungguh mengejawantahkan nuansa coming age; dialog yang tidak neko-neko bahkan cenderung polos; hingga fase pendeknya yang terkontrol; film ini sukses memunculkan kesan “encourage” di benak saya. Ini penting, sebab saat ini justru ketakutan lebih dicintai oleh generasi millennials.