Kewajaran (day 45)

xiv

@31harimenulis

Kadang orang terlalu jahat pada diri sendiri. Atau malah sering?

Misalnya, belum mencoba tapi langsung bilang tidak bisa, belum membaca tapi langsung bilang tidak suka, belum menonton tapi langsung bilang bukan selera, belum bahagia tapi langsung bilang pengin hidup sekadarnya saja.

Keputusan-keputusan jangka pendek ini biasanya hadir bukan dari rasionalitas otak. Saya menyebutnya berasal dari emosi sesaat.

Apa bedanya? Otak akan melakukan pengukuran potensi dan perkiraan untung-rugi, gagal-berhasil, sebelum akhirnya keputusan terlontar. Sedangkan emosi hanya akan menuruti apa yang kita anggap berada di jalur aman–biasanya karena pernah melakukannya atau pun tampak nihil resiko. Hasilnya pun cukup kentara bedanya, keputusan dari otak biasanya berasosiasi dengan terma “banget (dan sinonimnya)”–rugi banget, untung banget; sedangkan emosi bisa dikatakan berada di level “standarlah”.

Namun, apakah artinya kita harus selalu menerima tawaran yang di luar kebiasaan selama ini? Kalau berpegang pada otak, pertanyaan ini sudah langsung terjawab. Kuncinya ada pada probabilitas kewajaran.

Jangan karena terdengar menggiurkan, terus lupa kalau kita tidak akan sanggup memenuhinya. Jangan pula mengiyakan hanya karena banyak kolega kita juga berada di situ. Di titik ini, pilihan yang diambil tetap berasal dari tempurung kepala individual. Artinya, orang-orang lain pun membuat pertimbangannya masing-masing; alias ikut konsensus atas tanggung jawab yang nantinya bersifat personal adalah kebodohan.

Jangan terlalu jahat pada diri sendiri. Mungkin suatu ketika dirimu memang butuh mencoba hal baru. Suatu ketika pula mungkin dirimu perlu mundur. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting telah dipikirkan masak-masak.