Kurang tidur. dua. (day 44)

xiii

@31harimenulis

Kita terbiasa mengasihani diri. Seperti saya yang seringkali mematok batasan-batasan apa yang tidak semestinya saya langgar. Meski batasan ini pun sifatnya tidak mutlak–sewaktu-waktu bisa lumer maupun mengeras.

Ambil contoh ketika saya merasa bahwa tidur saya kurang berkualitas, lalu saya mencoba menjustifikasi bahwa terjadi indikasi kurang tidur. Saya kemudian mencoba membalas dendam dengan memejamkan mata di jam-jam khusus, misalnya pagi hari setelah sarapan, pagi buta setelah bangun tidur (meski saya terbiasa bangun teramat pagi), maupun jam kritis ketika nyaris memasuki waktu makan siang. Iya, itu (balas dendam dengan tidur) adalah salah satu contoh tindakan mengasihani diri.

Namun, di beberapa kali kesempatan, saya pun menyaksikan hal lain. Terutama tentang teman-teman saya maupun orang lain yang mereka rela tidak memejamkan mata barang sekejap untuk bisa menyelesaikan suatu tanggungan. Mereka sebenarnya bisa memutuskan untuk tidur, tapi mereka berlaku kejam pada keinginan personal. Di macam-macam tindakan serupa ini, saya berada di persimpangan: ini saya yang salah atau mereka yang keliru?

Dampak kebingungan “melek situasi kondisi” belakangan ini memang tidak bisa disebut sederhana. Sekali-kali saya mengingat ke belakang, mengingat betapa dulu saya bahkan cukup handal dalam mencabut rasa kasihan sementara untuk mendapatkan kepuasan semipermanen. Sekali-kali pula saya menengok ke sekitar, menyaksikan bahwa ketika saya berbuat semena-mena pada mekanisme alamiah diri, di luar sana ada banyak orang yang juga demikian–saya tidak sendirian.

Memang kurang tidur (dalam makna literal maupun kiasan tanpa batasan pemaknaan) tidak pernah berasa enak. Yang penting adalah supaya mengetahui kapasitas diri sebelum melakukan upaya pemaksaan berulang-ulang.