Flashback review. Guardians of the galaxy vol. 2 (day 43)

xii

@31harimenulis

Pernah dengar istilah: film yang plotnya menuruti template—tinggal ganti konflik dan modifikasi keterlibatan karakter? Guardians of the Galaxy Vol.2 (selanjutnya akan saya sebut sebagai Vol. 2) adalah salah satunya.

Menyaksikan film ini serasa kita dilempar ke pengalaman menonton 2014 silam.

Durasi dibuka dengan flashback masa lalu di bumi (kini 1980), dilanjutkan dengan musik dan aksi komikal yang mengikuti credit pembuka, berikutnya diteruskan oleh kekacauan yang diakibatkan oleh kecerobohan, hingga penanganan krisis utama yang melibatkan kekuatan mahadahsyat.

Apakah penggunaan template berimplikasi buruk? Saya sendiri menganut faham bahwa bermain dengan template bukanlah suatu kemunduran.

Namun, tindakan ini mesti dibarengi dengan materi yang mumpuni. Tidak bisa kita menggunakan template tanpa adanya kebaruan yang ditawarkan. Kalau hal ini terjadi, di momen-momen awal, audiens mungkin masih bisa menikmati, tetapi tidak ada jaminan bahwa impresi itu tidak akan luntur ketika sebuah sajian kemudian menjadi repetitif.

Vol. 2 ini semacam menjadi ajang pamer dari MCU bahwa mereka memiliki peninggalan-peninggalan yang ikonik.

Kesannya, mumpung kekhasan ini tampak memliki pangsa pasar, eksploitasi habis-habisan saja sekalian. Di film ini, entitas yang dikeruk secara berlebihan adalah Groot, musik mixtape lama peninggalan mendiang ibu Peter, serta dialog receh (dan pointless).