Butuh dorongan ekstrim (day 8)

Pertanyaan pada diri sendiri yang mengusik sejak Februari hingga Maret ini adalah: kenapa saya tidak bisa lagi menulis nonstop?

Saya teringat ketika masih berada di semester-semester di mana ada tuntutan tugas take home sedemikian banyak. Kala itu, saya bisa mengerjakan tulisan beribu-ribu kata dalam sekali tempuh. Bahkan saya bisa tidak tidur–ingat JMC dan Manajemen Media. Saya sangat membutuhkan spirit itu kali ini.

Apalagi sekarang saya kira arahnya sudah lebih jelas. Saya sudah punya semua bahannya. Saya sudah punya struktur tiap bab-nya. Saya sudah tahu mana saja yang perlu ditambah atau dimodifikasi. Namun, apa daya kalau sejauh ini saya selalu berbenturan dengan sugesti “nanti-nanti”. Meskipun pikiran saya pun nyatanya saling beradu. Di satu sisi merasa tanpa ikatan, di sisi lain terus terdesak melihat tenggat semakin menipis.

Saya bahkan sampai membuat bayangan futuristik akan hadiah “kebebasan” ketika semua urusan ini secepatnya selesai. Saya tahu saya bisa memaksa diri sendiri, tapi ayolah dorongannya lebih ekstrim, supaya tantangannya begitu nyata.