Medium yang sepi (day 6)

Omong-omong, tidak tahu kenapa, tapi medium ekspresi yang sudah mulai jarang dibuka orang itu malah atmosfernya lebih asyik. Twitter contohnya. Dulu waktu sedang ramai-ramainya, saya langsung memutuskan untuk mengurangi intensitas akses, capek. Lalu baru setahun yang lalu saya mulai aktif cukup intens lagi, ketika orang-orang sudah disibukkan dengan media sosial “hits” lainnya. Di twitter setahun silam, ngomong jadi lebih lega.

Sayangnya, gara-gara pilkada serentak 2017, twitter kembali rusuh. Saya mulai capek lagi dengan twitter. Lalu saya mulai melirik tumblr lagi. Saya mulai kepikiran untuk “kembali” setelah melalui masa hiatus cukup lama. Dan, ternyata tumblr sekarang sepi! Saya merasakan keleluasaan.

Sepi yang saya maksud adalah putaran pembaruan dari orang-orang di dasbor saya tidak intens. Jadi saya masih bisa dengan mudah nge-track update mana (dari yang saya follow) yang saya lewatkan.

Lagian, ketika pembaruan dari orang-orang tidak sekencang dulu, saya jadi punya kesempatan buat buka-buka arsip lama. Membaca dan bernostalgia–sekaligus mungkin malu karena melihat gaya tulisan yang dulu lebih rapi dan berapi-api.

Sampai di bagian ini, saya agak mengharapkan supaya dasbor saya tidak konstan seseret ini dalam beberapa hari ke depan. Mungkin kamu yang sedang membaca ini mau ikut mulai aktif lagi?

Yuk!