Maaf yang parsial (day 4)

Saya pernah membaca bahwa ketika dalam sebuah rangkaian presentasi atau pemaparan sesuatu, hindari meminta maaf. Permintaan maaf di tengah-tengah kegiatan semacam itu dianggap bisa melemahkan argumen atau kepercayaan diri materi yang tengah dibawakan. Saya pun sepakat dengan bahan bacaan tersebut. Meski parsial.

Di banyak presentasi atau penjelasan yang saya lakukan di depan orang lain, saya berusaha sebisanya untuk menghindari meminta maaf yang tidak perlu. Termasuk mengeliminasi frasa “mohon maaf atas kurang dan lebihnya” serta saudara-saudaranya. Seringnya saya langsung mengatakan “demikian, terima kasih atas perhatian dari teman-teman, selamat siang”.

Namun, untuk penyampaian khusus semisal ada tanda-tanda mendesak dan perlu, saya akan langsung refleks mengucapkan maafnya. Misal ketika akan ada pemaparan yang agak ekstrim, maka akan saya dahului dengan “maaf kalau penjelasan setelah ini cukup vulgar”. Sama halnya ketika kondisi fisik saya agak kurang prima, seumpama hari ini, “Maaf mata masih mengantuk, seharian saya menuntaskan Season 1 serial terbaru Marvel-Netflix berjudul Iron Fist.”