Kalau harus menjuduli tulisan ini, mungkin yang paling pas adalah “klarifikasi tentang apa yang sebenarnya terjadi”. Terutama dari medio 2015 hingga akhir tahun lalu, 2016.
Saya butuh waktu sekian lama cuma buat menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya sendiri. Mengapa saya sampai tidak berani untuk melanjutkan aktivitas menulis secara personal di blog. Mengapa saya bahkan pada awal 2016 memilih untuk tidak memasang resolusi apa pun saking kalutnya. Bahkan saya yang selama ini melabeli diri–terutama untuk sugesti pribadi–sebagai orang yang selalu berpikiran positif saja sempat dibuat sangat limbung.
Yang terjadi adalah: saya mengalami komplikasi krisis, baik personal maupun sosial.
Perlu dipahami lebih dulu, bahwa pernyataan di atas terjadi karena saya terlalu ambil pusing, terlalu memaksakan internalisasi segala kejadian. Yang terjadi justru membuat saya sendiri tidak yakin.
Secara personal, saya sempat sampai pada titik tidak kuasa ketika harus memanggul semua tugas sendirian. Saya merasa berjalan sendirian karena orang-orang lain pun nampak sibuk dengan sendirinya pula.
Dugaan saya atas kesibukan orang lain itulah yang mengantarkan pada krisis sosial. Saya sampai dibuat tidak bisa percaya dengan orang lain, tidak bisa memegang omongan orang lain. Bahkan guratan kecewa saya itu pun menimpa teman-teman yang sudah sekian lama saya kenal, sudah sekian lama selalu menjadi partner yang konstruktif.
Ternyata tekanan tugas dan semacamnya membuat atmosfer yang chaos. Bukannya kami saling dukung, justru yang ada adalah saling menyalahkan. Sialnya, saling menyalahkannya ini berada di level menyalahkan diam-diam. Itulah yang menyebabkan saya mengalami krisis.
Dari situ saya lalu coba dengan sangat berberat hati melepaskan tanggung jawab satu demi satu. Dari mulai menghentikan proyek pribadi saya (menulis setiap hari) hingga menaruh target untuk mencoba mengganti atmosfer kerja saya bersama orang lain.
Dampak lebih panjang dari keputusan silam nan berat ini adalah: saya sampai takut untuk menuntut apa pun pada diri sendiri.
Saya tidak berani memasang target resolusi. Saya tidak berani “memperpanjang kontrak atmosfer kerja” yang selama ini sudah sangat mapan–sampai-sampai membuat saya memilih mencari naungan baru. Saya bahkan tidak berani memaksakan mau berada di tempat KKN mana, yang masih saya pegang cuma saya tetap ingin di Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah semesta memang terlalu baik pada saya. Namun di rangkaian momen “paling rendah” dalam hidup saya itu, saya justru memperoleh ganjaran luar biasa baik secara bertubi-tubi. Tidak hanya material, tetapi juga mental (kedua hal ini akan dituliskan lebih panjang kelak secara terpisah).
Pelan-pelan saya mulai berani lagi percaya pada diri sendiri. Berani lagi memakai label “be positive”. Berani lagi melontarkan argumen ke publik.
Karena apa? Karena saya sadar bahwa sebenarnya (ternyata) semesta masih menghargai saya. Mekanismenyalah yang agak asing. Hanya saja mungkin saya memang butuh waktu untuk penyesuaian sana-sini, lebih sadar sana-sini. Itulah mengapa di periode itu saya merasa berada di proses pencarian dan menemukan kembali diri sendiri.
Apakah saya sekarang sudah benar-benar pulih? Nyaris.
Dengan dimulainya lagi komitmen target menulis ini, paling tidak saya bisa kembali merasakan sensasi serupa dulu yang rasanya meledak-ledak. Meski belum sepenuhnya–nyaris–saya kira ini sudah sangat baik, saya tinggal memerlukan sedikit waktu lagi untuk melakukan perbaikan “hubungan” di beberapa hal.