Project 2014 Day 202 of 365
21 Juli 2014. Selain akal, manusia patut mensyukuri pemberian lainnya dari Tuhan. Tidak diberikan untuk makhluk lain juga. Bahkan cenderung ini merupakan monopoli kaum manusia. Namanya semangat.
Secara garis besar, dampak yang ditimbulkan gara-gara frasa ini sangatlah kuat. Melebihi perwujudan lain. Sebab ini ada kaitannya dengan dorongan tiap-tiap individu. Terkait ego. Terkait eksistensi.
Terbukti dengan adanya banyak konsultan yang menjagokan segmen ini sebagai senjata utama. Anggap saja “semangat” tidak ada, jelas profesi motivator juga bakal punah secara tiba-tiba. Hasrat untuk mencapai sesuatu tidak lagi penting.
Nyatanya, dari dulu kala, saya yakin manusia tidak pernah lepas dari hal ini. Mengalami ketergantungan secara terstruktur sistematis dan masif. Selama keinginan untuk bertahan hidup itu ada, maka semangat tidak pernah benar-benar tenggelam. Namun tidak semua manusia mau bertindak seperti itu. Banyak yang masih gengsi bahkan pada dirinya sendiri. Seolah dukungan eksternal lebih dewa daripada kekuatan batin menghadapi kekalutan. Sehingga mengemis semangat dari orang lain menjadi sebuah rutinitas.
Tiap hari hanya berjalan demikian. Mengais rontokan citra diri saja sudah enggan. Tinggal tersisa keping-kepingan berwujud orang lain. Bisa jadi beberapa tahun mendatang, orang lain akan melihat sosok manusia sebagai pribadi yang benar-benar tanpa jati diri. Terlalu banyak intervensi asing. Bahkan untuk hal yang bersifat mendasar.
Sudah menyemangati diri sendiri hari ini?
Tontonan hari ini Spud 2 (2013)