Project 2014 Day 201 of 365
20 Juli 2014. Setiap pertemuan yang dilakukan, sangat mungkin 80 persen pembicaraan terjadi di luar topik, 20 persen sejalan. Sering sekali ini terjadi, bahkan seperti sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Tapi ketika saya terus mempertanyakan hal teknis semacam ini, saya menjadi agak goyah juga. Apakah memang pembicaraan itu harus diarahkan?
Masalah yang sering saya temui adalah pembicaraan diarahkan bakal berjalan formal, kaku, dan jangan lupakan awkwardness-nya. Karena situasi yang tercipta seperti itu, maka kemudian bermunculan satu out of topic (oot), disusul oot lainnya. Seperti wabah yang memang susah untuk dibendung.
Di sisi lain, oot itu menyenangkan.
Namun tambahan pertanyaan lagi: mengapa hal-hal yang menyenangkan itu terasa menambah dosa? Sebenarnya bukan dosa ekstrem, hanya bentuk rasa bersalah pada diri sendiri yang biasanya muncul. Kegeeran.
Semakin ke sini, saya menyadari bahwa pembicaraan insidental malah memiliki saripati lebih banyak daripada sebaliknya. Hanya saja memang perlu ada satu medium yang mau menjadi semacam alat kontrol. Tidak perlu yang neko-neko, misalnya perunut poin-poin. Setelahnya tinggal disimpulkan. Sebab bentuk omongan itu seringkali hanya sekali ingat, beberapa menit kemudian kabur, selingkuh, amnesia. Layaknya snapchat.
Sudah oot hari ini?
Tontonan hari ini Ironclad Battle For Blood (2014)