Project 2014 Day 203 of 365
22 Juli 2014. Sudah berapa kali tokoh dengan inisial Prab itu mengeluarkan jurus memecah belah bangsa?
Saya miris memikirkan banyak hal terkait kerakyatan. Betapa rakyat seolah memang tercipta untuk terus-terusan direndahkan hanya karena beda bentuk kursi yang sedang diduduki. Miris melihat banyaknya usaha licik yang diperbuat oleh tokoh yang terus terobsesi untuk memegang tampuk kekuasaan ini.
Saya semakin kehilangan kepercayaan. Sesaat setelah dilakukan konferensi pers penolakan hasil Pemilu itu. Saya sempat bingung mau ke mana arah drama beberapa bulan belakangan tersebut akan terus digulirkan.
Ketika sebuah proses nasional yang telah didasari oleh rasa saling percaya, harusnya di akhir program bisa terwujud hal yang disebut rasa menerima. Apalagi ketika calon bersangkutan memang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat: bakal menghormati apapun keputusan rakyat.
Namun yang terjadi hari ini benar-benar di luar nalar. Kalau saja ini adalah sebuah feature movie, saya yakin plot yang disuguhkan sore tadi adalah bentuk twist paling gila. Meskipun sebelum-sebelumnya juga sudah dibonusi rentetan twist. Seolah bentuk-bentuk usaha keras semua pihak yang telah ikut terlibat aktif dalam proses panjang dan melelahkan ini ingin begitu saja dimentahkan dengan memunculkan fatwa penolakan sepihak.
Tidak perlu saya singgung tentang segala bentuk tuduhan kecurangan yang disasarkan. Sudah terlalu banyak dibahas. Namun satu hal yang bisa saya tulis: tuduhan Anda benar-benar tidak berdasar pun cenderung tersulut emosi diri yang sebenarnya. Saya hilang kendali percaya, meski sebelumnya saya memang tidak memberinya kepercayaan. Tapi setidaknya, sebelum kejadian tadi sore, saya masih punya anggapan kalau semua proses bisa dijalani lagi di periode berikutnya. Kenyataannya, setelah terjadi insiden mengerikan itu, saya pikir pintu untuk periode setelahnya sudah tertutup rapat. Prab terlalu buta akan realita, terlalu gegabah menentukan ketidakterimaannya.
Setelah semua bentuk intimidasi yang telah dilontarkan selama ini, masih kah belum cukup?
Membuat media-media bohongan yang gelap mata berisi banyak gurauan tidak lucu. Menciptakan banyak isu tapi pura-pura tidak tahu. Munafik itu namanya. Apalagi terkesan maling teriak maling.
Mendiskreditkan ilmu yang berdasar kuat seperti quick count dengan cara bermain di zona kotor. Saya menolak memaafkan di bagian ini. Betapa tokoh ini telah membahayakan kredibilitas ilmu pengetahuan. Maka keilmuannya pantas dianulir.
Maaf, rasa hormat saya kepada Anda–Prab–sudah benar-benar kadaluarsa. Menyingkirlah. Saya bosan merasakan rasa tertekan yang Anda munculkan. Yang seolah-olah memang tidak pernah dimaksudkan untuk menemui titik akhir.
Saya tidak pernah sebenci ini pada sebuah kubu. Tidak ingatkah dengan alasan: kebersatuan lebih penting dari segalanya? Saya kira kubu itu sudah lulus, nyatanya masih perlu diklarifikasi.
Maaf sekali lagi, kepentingan besar untuk keberlangsungan Indonesia tidak sebercanda itu!
Sudah mengoreksi apa hari ini?
Saya lampirkan video ini supaya pembaca bisa merujuk mana yang mau dipihak.
NB. Khusus tulisan ini, “Anda” diasosiasikan dengan kubu Prab yang konservatif. Bukan untuk pembaca umum.