
Project 2014 Day 21 of 365
Kalau tidak mampu dalam persaingan intelegensi tingkat atas, setidaknya saya selalu berpikir bahwa saya harus bisa mendapatkan mereka. Dalam artian saya memiliki aset seperti mereka kelak sewaktu memiliki usaha. Dalam artian yang lebih frontal: saya menjadi bosnya, karena saya tidak bisa bersaing dengan cara seperti mereka.
Tidak masalah ketika kita dihadapkan pada kehidupan yang kebetulan memang berbentuk seperti ini. Sering ada orang yang sangat bersemangat dalam bidang kepastian, namun tidak sedikit pula yang lebih memilih untuk mendalami kehidupan. Saya semakin ke arah sini semakin yakin bahwa saya bukan golongan yang pertama secara murni. Kalau saya boleh memakai istilah Veronica Roth: divergent sepertinya lebih menggambarkan siapa saya. Namun saya kemudian lebih condong memilih kehidupan.
Apa yang menjadi alasan saya tiba-tiba menulis seperti ini? Tidak banyak orang yang aware bahwa di gelombang tak kasat mata dunia tersebar begitu banyak hal-hal luarbiasa. Intelegensia misalnya. Pada tes IQ terakhir yang saya peroleh, predikat saya adalah di atas rata-rata. Ada teman saya yang bisa memperoleh Cerdas. Dalam artian satu tingkat di atas saya. Namun memang ada konsekuensi di balik setiap hal. Saya merasa bisa imbang dengan EQ saya, sedang teman saya itu seringkali menuntut bahwa hal abnormal juga harus ada penjelasan ilmiahnya, kalau boleh meminjam istilah dari kelas Ilmu Sosial Dasar, dia condong pada aliran positivistik.
Hari ini saya menonton satu film yang lagi-lagi berhubungan dengan intelegensia tidak lazim: Ender’s Game (2013). Mengingatkan saya pada film Extremely Loud & Incredibly Close (2011) dan Safe (2012). Yang menjadi sorotannya adalah anak dengan kecerdasan otak luarbiasa. Saya memandang bahwa ‘kadang’ eksploitasi adalah jalan tengah untuk menghindarkan dunia dari pikiran yang terlalu strict. Namun hal ini dipandang sebagai hal yang saling kontra di film ini, gegabah. Ada beberapa konflik pendirian yang akhirnya muncul mengenai adil tidak mereka merekrut anak di bawah umur untuk menyelamatkan dunia?
Secara keseluruhan saya melihat visualisasi di beberapa bagian seharusnya bisa dijadikan lebih emosional. Dalam pengertian, sebenarnya film ini bisa lebih menggali potensi itu karena pemantiknya sudah ada. Pun film ini bukanlah presentasi yang biasa, akan terwujud rasa puas setelah menontonnya. Saya pikir ketika semua manusia mulai mempertimbangkan semua elemen yang ada maka akan terbentuk sebuah lingkungan yang lebih kuat dibandingkan hanya dieksekusi oleh golongan tertentu saja. Akan terwujud rakyu yang lebih didominasi oleh kesamaan pandangan, pikiran. kebaikan. Sepertinya banyak orang yang berpikir begitu pula.
Sudah memperoleh fakta apa hari ini?
rakyu (n) hasil pikir manusia; ilmu