
Project 2014 Day 19 of 365
Tidak semua cerita memiliki awal yang bisa langsung membuat penikmatnya menyukai hal yang disajikan. Mungkin tidak harus dalam artian menyukai, namun bisa pula memberikan kesan menyenangkan di pembukanya. Karena tidak semua cerita berjalan seritme sepanjang perjalanannya. Menarik ketika ada sebuah film yang menyajikan hal semacam ini. Karena hari ini saya menonton film The Secret Life of Walter Mitty (2013) dengan model penceritaan ‘tanpa sekat’ antara hal yang benar terjadi dan zoned out bagi Walter sendiri.
Sudah lama saya tidak menemukan hal seperti ini di sebuah film. Terakhir hal nyaris sama yang saya ingat adalah film Life of Pi namun Ang Lee menyajikannya dengan proporsi penceritaan yang lebih jelas. Pada prolog film The Secret Life of Walter Mitty saya tahu bahwa tokoh utama mengalami kelainan dengan perihal fokus, namun saya tidak mengerti kenapa tadi rasanya mendadak ikut linglung ketika menonton. Ceritanya sebenarnya sederhana: Mencari film foto nomor 25 yang ‘hilang’. Hal itu tidak akan menjadi masalah kalau hanya berupa klise biasa, namun sayangnya itu adalah klise foto krusial yang akan dipakai untuk sampul edisi terakhir majalah tempat Walter bekerja, Life.
Saya mulai menikmati dengan lancar film ini ketika sudah memasuki 30 menit penceritaan. Saya suka cara para kru film ini memberikan suguhan landscape yang menarik dengan berbagai tingkah absurd Walter dan sekelilingnya. Film ini hadir dengan bentuk presentasi yang memang harus disaksikan secara utuh, tidak mungkin dipenggal, pun pada akhirnya penonton tinggal memetik buah manisnya ketika credit title muncul di akhir. Satu hal benar-benar saya ingat adalah perkataan sang fotografer cover yang dicari-cari, Sean: Bahwa tidak semua hal itu bisa sama sensasinya ketika sambil diambil gambarnya (diabadikan), kadang yang perlu dilakukan adalah hanya menikmatinya secara penuh, utuh, tanpa penghalang dan perantara, pada akhirnya jiwa kita bisa ikut merasuk secara sempurna dalam momen itu.
Di beberapa scene saya benar-benar terpaku pada sikap teguh Walter untuk kedekak-kedekik meskipun banyak mengalami peremehan. Menyenangkan saat saya memperoleh hal baru dengan cara yang menyenangkan pula, seperti menonton film contohnya. Yang perlu dilakukan adalah tidak hanya menjadikan hal seperti itu sebagai angin lalu saja. Film adalah salah satu media yang sempurna untuk memberikan efek “knock-knock”.
Sudah memperoleh pelajaran apa hari ini?
kedekik (v), kedekak-kedekik (v) bekerja membanting tulang