Sendiri – Day 18 of 365

image

Project 2014 Day 18 of 365

Komputer adalah hal paling gila yang pernah saya kenal. Saya mengenalnya sejak kelas 4 SD, dan kemudian dibelikan oleh orangtua saya sewaktu mulai SMP kelas 1. Saya masih ingat betul spesifikasi komputer pertama saya: Pentium 3, RAM 128Mb, HDD 20Gb, WINDOWS 98! Bayangkan saya tetap memakai versi OS Windows 98 sampai awal kelas 3 SMP. Kalau saya flashback sekarang, rasanya itu adalah hal yang benar-benar ganjil. Biar saya jelaskan mengapa begitu: Pertama, Windows 98 tidak bisa untuk memainkan file video. Kedua, dulu saya benar-benar beternak virus dengan versi Windows ini. Terakhir, lag di tengah-tengah kegiatan itu biasa, bahkan bisa mati dan restart sendiri. Anda yang penasaran bisa mencobanya sendiri.

Kemudian sewaktu SMA, saya akhirnya dibelikan laptop HP Compaq CQ-41 yang masih saya pakai sampai sekarang. Versi boleh lama, bahkan ketebalannya tidak manusiawi, tetapi masalah performa, laptop ini masih di atas rata-rata, kemampuan grafis yang dimilikinya saya sangat suka. Paling utama adalah laptop ini sudah memberikan saya uang yang sudah melebihi harga laptopnya sendiri berkali-kali lipat, menghasilkan. Dari laptop ini lah kemudian saya mengenal dunia ‘terkutuk’ pen-download an. Kenapa terkutuk? Jelas karena hal ini berhubungan dengan kapasitas HDD yang semakin terancam, saya mengenal film digital tanpa iklan, dan kuota internet di ujung tanduk. Saking ‘sayang’nya saya pada laptop ini, sewaktu SMA dulu bahkan teman-teman saya sering berujar bahwa saya berpacaran saja dengan laptop. Oh my…

Saya merasa bahwa hidup di zaman seperti ini saja sudah terdengar lumayan gila. Apalagi tadi siang saya habis menonton film yang memiliki plot hampir sama, bahkan lebih gila dari pengalaman saya. Judulnya Her (2013), dimainkan dengan sangat apik oleh J. Phoenix dengan cerita di masa depan, di mana semua hal ada bentuk digitalnya, bahkan interaksi emosi pun juga ada bentuk digitalnya. Mungkin sekarang banyak yang meremehkan keadaan alone. Namun hati-hati, di masa depan keadaan seperti ini bisa benar-benar mengancam karena kemudian diciptakan OS yang ‘mengerti kita’ bahkan tokoh utama di film ini sampai berpacaran dengan OS tersebut. Antara sangat satir dan mengerikan di saat yang sama. Film ini sendiri tersaji dengan kadar keromantisan yang sangat proporsional, perasaan cegak pun bisa didigitalisasi. Pada beberapa bagian saya bahkan sampai berpikir ‘Gila banget ini zamannya. Teknologinya benar-benar pengen aku coba.’ Presentasi yang sangat menarik.

Sudah merasa sendiri hari ini?

cegak (a) 1 gembira; 2 kuat dan tangkas; 3 giat.