
Project 2014 Day 13 of 365
Dengan memberi judul terlebih dahulu saya merasa lebih mudah untuk mengarahkan sebuah tulisan akan dibawa ke plot yang mana.
Hari ini saya merasa berbeda. Lebih karena banyak hal yang kebetulan dirilis hari ini. Golden Globe pun Sherlock (2014) Season 3 Episode 3: His Last Vow akhirnya dibuka kartunya. Saya sangat tertarik. Sangat. Dan kebetulan saya memang terbiasa terlalu excited pada hal-hal yang membuat saya senang.
Saya bermaksud ke kampus jam sepuluh(an) tadi pagi. Tetapi apa daya ketika saya coba hanya sekedar tiduran dan memainkan ponsel, ternyata sifat mudah tertidur saya untuk waktu pagi benar-benar tidak bisa diremehkan. Saya bangun jam dua belas kurang lima belas menit. Luar biasa!
Akhirnya saya sampai kampus jam satu kurang lima belas menit. Rencana awal saya hanya akan sampai jam dua di lantai lima, karena harus ada keperluan mengambil cetakan idcard dan juga membuat mug tumbler pesanan. Namun Jogja berkata lain. Tiba-tiba hujan dan kemudian tertunda satu jam, mungkin lebih, satu setengah jam. Yang jelas saya baru bisa keluar dari kampus jam setengah empat.
Akhir-akhir ini saya sering bangga sendiri: ternyata tempat kuliah saya ini strategis ya. Setelah sembilan belas tahun di Jogja dan saya baru benar-benar menyadarinya. Anggapan saya berdasar pada banyaknya percetakan yang menyemut di area ini. Fakta bahwa saya memang membutuhkan mereka karena bisnis online saya membutuhkan akses percetakan yang bagus, murah, dan cepat. Problem solved. Tidak harus membelah Jogja lagi untuk membuat merchandise.
Karena episode terbaru Sherlock (series) rilis hari ini, maka jelas yang saya lakukan adalah menontonnya. Saya bisa berkata bahwa jika kita menyebut (season 3 ini) episode 1 adalah saatnya membuka tabir untuk jelas menghubungkan dengan season 2, yang terpaut jarak dua tahun lalu. Kemudian episode 2 adalah pengembangan persepsi penonton melalui banyak selipan (bahkan bukan lagi selipan) humor yang tidak henti-hentinya. Dan episode ke-3 merupakan senjata pamungkas untuk mengakhiri season ini pun membuka tabir agar season berikutnya tidak kesulitan untuk melanjutkan perjuangannya.
Episode 3 berjalan sebagimana mestinya. Maksudnya tidak menimbulkan terlalu banyak kontra, seperti yang dialami oleh episode 2 karena porsi humornya sangat banyak (which is I have no problem with that), karena di sini semua bagian mendapat porsi yang kembali seimbang seperti Sherlock di season 1. Tokoh villain pada episode ini sangat menonjol, saya kaget melihat kemampuannya memunculkan banyak informasi di depan pandangan hanya dengan melihat orangnya, semacam memakai kacamata mata-mata canggih, atau yang lebih mudah dibayangkan, seperti memakai google glass.
Menyenangkan ketika penantian atas series yang sudah lama ditunggu akhirnya terbayar lunas dengan eksekusi episode final ini, brilliant! Saya suka dengan salah satu ucapan yang terjadi pada episode 3: Fakta hanya untuk buku-buku sejarah. Saya bekerja untuk kejadian terbaru.
Seperti itulah kira-kira terjemahannya (saya kadang merasa aneh apabila memparafrasekan kalimat asing ke dalam bahasa Indonesia, semacam ada yang kurang. Versi aslinya dalam bahasa Inggris terasa lebih memiliki nyawa menurut saya). Sangat menarik untuk sekedar dijadikan selingan renungan, membetuk pola sikloid pikiran kita. Karena selama ini mayoritas selalu mengagung-agungkan fakta. Ya, lebih karena kesepakatan bersama juga bahwa manusia memang tidak semuanya ingin melalui proses panjang untuk memperolehnya. Kalau ada yang langsung instan maka itulah penganggu terbesarnya.
Sudah mendapati fakta apa hari ini?
sikloid 1 (a) mendekati bundar;