Giving – Day 12 of 365

image

Project 2014 Day 12 of 365

Akan lebih mudah menyadari kalau keseluruhan jati hidup akan kembali lagi kepada yang menjalaninya, dalam hal ini adalah kita. Apapun bisa diperbuat. Apapun bisa dikonsepkan. Apapun. Tapi kalau anak psikologi bilang: itu kembali lagi pada pribadi masing-masing.

Itulah gambaran yang setidaknya paling “bisa” menggambarkan tentang apa yang saya rasakan hari ini. Karena saya menonton film Lone Survivor (2013) yang sebelumnya saya anggap remeh setelah melihat cover dan genrenya. Dengan seting tentara Amerika yang dikirim ke negara lain untuk memata-matai. Apa bedanya dengan film sejenis seperti Saving Private Ryan (1998), The Hurt Locker (2008), Dear John (2010), Zero Dark Thirty (2012)? Saya sudah menonton semua film yang tersebut di kalimat sebelum ini.

Saya menonton Saving Private Ryan, merasa sangat impressed dengan plot dan emosi yang disajikan. Namun perasaan seperti itu sudah lama tidak saya dapatkan ketika menonton film dengan genre yang sama setelahnya. Sebut saja The Hurt Locker, saya suka, namun tidak menimbulkan bekas terlalu dalam. Kemudian Zero Dark Thirty, sutradara yang sama dengan The Hurt Locker ternyata masih bukan jaminan film tersebut akan melekat di hati saya. Apalagi Dear John, saya malah kurang berminat membahasnya.

Kalau seperti itu pasti dianggap bahwa saya terlalu subjektif, inilah guna dari postingan kali ini. Saya tidak merasa terlalu senang dengan peran dominasi. Apapun itu, dalam praktik bagaimanapun hal itu tidak terlihat keren di mata saya. Saya beranggapan bahwa semua hal perlu dilihat dari paling tidak dua sudut pandang. Hal itulah yang mendasari saya kurang mendapatkan kesan impressed pada film-film genre tersebut. Karena mereka hanya menonjolkan bahwa negara mereka saja yang terlihat baik, lainnya dilihat sebagai pengganggu perdamaian. Artinya berat sebelah di mata saya, The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty masih bisa saya toleransi, namun untuk Dear John saya selalu mengatakan kepada orang yang memang butuh pendapat bahwa film tersebut semacam: Apa tuh loh tujuannya?

Sekali lagi saya menekankan bahwa di sini seolah-oleh subjektifitas saya terlihat sangat liar. Berbeda dengan yang saya temui di Lone Survivor. Tidak perlu memberikan porsi seimbang yang terlalu dipaksakan, cukup dengan beberapa scene kecil tapi memberikan hujatan emosional yang sangat mendalam pada hati penonton, maksudnya memberikan kesempatan berbagai sudut pandang untuk ikut tampil dalam satu frame.

Sekali lagi, sepertinya saya terlalu sensitif akhir-akhir ini. Saya sempat mbrebes mili ketika scene perpisahan antara ‘Lone Survivor’ dengan anak penduduk setempat, di hampir akhir film. Itu saya lihat sebagai salah satu scene paling tulus yang pernah ada. Susah mendefinisikan perasaan yang terpengaruh gelombang emosional.

Cukup untuk Lone Survivor. Kemudian hari ini saya ke Kaca KR lagi, sampai cukup malam, sekitar jam setengah sembilan, yang dihabiskan dengan acara ngobrol edan. Ngobrol yang benar-benar bisa bikin saya tertawa sampai nangis saking konyolnya cerita teman saya itu (sudah sangat lama saya tidak tertawa seperti ini). Saya beranggapan bahwa sharing apapun itu selalu menarik untuk diikuti. Paling tidak kita jadi memiliki daftar referensi untuk banyak aktivitas yang kemungkinan dialami. Bahkan impromtu. Bukan sekedar untuk memajankan, yang jelas selama kita tahu di mana seharusnya posisi diambil, maka hal tersebut akan sangat berguna.

Akhir-akhir ini saya juga semakin sering mendengar kalimat: karena berbagi itu menyenangkan. Agak ganjil saja, karena saya dulu pernah menulis kalimat itu tanpa ada influens dari pihak mana pun. Atau memang sebelumnya sudah ada yang terlebih dulu menulisnya?

Sudah memberi apa hari ini?

pajan (v) memajankan (v) membiarkan sesuatu terbuka; menampakkan; memamerkan; mengekspos;