
Project 2014 Day 14 of 365
Saya pikir hari ini akan berlangsung dengan biasa saja. Saya hanya nglangut di rumah sampai jam 3 sore. Tetapi kemudian lagi-lagi Kaca menyelamatkan saya dari hari yang “nyaris” seadanya.
Saya menyukai waktu ketika memperoleh hal baru. Sepertinya semua orang juga begitu. Namun hal-hal baru yang dicari bukan lagi masalah formal maupun ala kadarnya, saya lebih menyukai mendengar dongengan orang lain. Saya suka mendengar. Lalu ketika ada jeda, saya baru memutuskan untuk memberi tambahan atau semacamnya. Saya juga suka bercerita, namun kadang saya merasa bahwa apa yang terceritakan belum tentu dipahami semenarik pencerita.
Berikan saya sedikit kelonggaran untuk memikirkan cerita apa yang ingin diutarakan, karena otak saya belum mendukung “ready stock system”. Artinya jangan todong saya dengan tiba-tiba untuk berujar, karena (lagi) yang akan keluar ada “eee” panjang yang belum tentu berhenti sebelum menemukan idenya. Namun pun ketika saya sudah bertutur, seringkali saya terlalu bersemangat karena “mungkin” menyangkut hal yang saya benar-benar sukai, atau minimal saya tahu dengan baik.
Di sekretariat Kaca tadi pun juga berjalan dengan arah penuh letupan asik. Ritmenya selalu tidak terduga. Yang membekas hari ini adalah cerita Mbak Niken tentang perhatian mamanya. Saya anggap ini general, bisa siapa saja, maksudnya berlaku untuk semua orang, tetapi tidak harus hanya ibu saja, kedua orangtua pun mencakupnya. Diujarkan bahwa ketika kecil, mungkin semua mengalami perhatian yang berlebihan dari orangtua, mengenai tidak boleh keluar malam, menginap di rumah teman dan hal yang “dulu” dianggap menarik. Kita merasa berada dalam sangkar, mencengkram gagang, iri melihat kok teman-teman yang lain diperbolehkan. Saya pun juga pernah merasa seperti ini. Kemudian bahwa ketika kita sudah bertambah usia, orangtua tetap memberikan wanti-wanti supaya melaporkan sedang berada di mana dengan penuh detail menyebalkan, acapkali. Namun lagi, ketika sudah sedikit lebih dewasa, orangtua kita seperti sudah memberikan kepercayaan pada kita, jarang ditemui bentuk kekangan lagi, kita bebas.
Namun pada posisi seperti itu, Mbak Niken berujar bahwa: kok jadi kayak terbalik ya? Malah yang terlintas sekarang adalah: oh benar juga ya omongan mama (read: orangtua) dulu, mencoba berperilaku agar anaknya tetap aman dan siap sampai waktunya tiba. Namun kini setelah kebebasan tersebut diperoleh, malah terbersit pikiran: mama (read: orangtua) kemana? Kenapa ga bawel lagi?
Ya kalau mengulik barga memang tidak akan pernah buntu di tengah-tengah. Masalahnya adalah tidak semua dari kita mau dengan mudah mengungkapkan kisahnya. Bisa dimaklumi, namun kalau mau bercerita, good, berarti rasa percaya kita sedang benar-benar diuji. Mas Agung kemudian menambahkan bahwa series Smallville season awal dulu secara nyata menggambarkan pertumbuhan anak western bersama keluarganya dengan sangat baik. Ketika terjadi perselisihan, bukan berwujud masalah benci, atau hal-hal merendahkan lainnya, tetapi keterlibatan tokoh-tokoh pada konflik keluarga yang riil. Itulah gambaran yang bisa disebut ideal.
Hari ini saya menonton 12 Years A Slave (2013). Tercermin hal mendasar pada manusia bahwa tidak semua orang itu mau bertindak baik, masih ada yang ingin menyakiti orang lain. Bahkan mengintimidasi dengan cara-cara lain. Memang secara nyata masih ada hal yang semacam itu. Benar-benar cerita yang menggetarkan hati.
Sudah bercerita apa hari ini?
barga (n) sanak kaum kerabat; sanak keluarga