Pembenci – Day 24 of 365

Project 2014 Day 24 of 365

Saya tidak pernah mengerti jalan pikiran yang diarahkan pada perilaku untuk memberikan kesan sangat buruk pada orang lain. Atau dalam istilah yang lebih familiar, saya selalu tidak bisa membenarkan tindakan yang didedikasikan oleh para haters.

Saya sangat familiar dengan masalah ini. Saya adalah orang yang mengerti tokoh mana yang bisa dijadikan panutan dan memberikan dampak positif, pun mengetahui mana yang kurang baik bagi saya. Saya mengerti sekali hal yang berkaitan dengan fanbases. Karena beberapa tahun yang lalu saya pernah menjadi owner dan otomatis admin untuk fanbase seorang penyanyi barat yang jumlah member di fanbase saya sampai menembus angka 12 ribu orang. Kemudian beberapa waktu kemudian saya mulai memberanikan diri menggunakan hal-hal yang saya ketahui mengenai fanbases tertentu untuk membuka sebuah online shop yang menyediakan merchandise dari berbagai macam fanbase. Memang kebetulan yang menjadi fokus saya adalah penyanyi barat.

Pada tulisan ini saya tidak akan membahas tentang detail pengalaman saya ngadmin fanbase. Namun lebih pada kelompok yang dengan bangga menamakan diri mereka sebagai haters. Masalahnya bukan pada: “Kan terserah mereka mau jadi haters atau enggak”.

Namun karena saya benar-benar tidak bisa melihat hal yang bisa diterima akal sehat tentang alasan mereka menjadi haters. Poin pertama: mereka mendedikasikan waktu mereka hanya untuk mencari-cari kesalahan tokoh lain yang bahkan tidak mereka kenal. Poin kedua: alasan yang mereka pakai mengapa menjadi haters sama sekali tidak bisa dinalar, serius. Poin ketiga: apa untungnya bagi mereka ketika menghina-hina bahkan sampai mengumpat yang tidak pantas pada semua orang? Toh saya yakin sang tokoh tidak akan terpengaruh juga. Mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk membenci seseorang saya lihat adalah hal yang nonsense. Iya saya juga punya ketidaksukaan pada sesuatu atau seseorang, namun tidak sampai menjadi haters, karena: apa untungnya buat saya?

Karena bagi saya sendiri, lebih bermanfaat ketika mencoba menjadi fans daripada haters. Saya dulu mulai bertekad belajar Bahasa Inggris, belajar membuat networking atas dasar kesamaan latar belakang, belajar memanfaatkan informasi untuk hal lain yang bisa menghasilkan sesuatu pula (melalui OL shop yang saya buat dan masih berjalan sampai sekarang), belajar memanajemen pikiran tentang hal apa yang layak dibagi ke publik dan mana yang cukup dijadikan konsumsi pribadi.

Well, itulah beberapa alasan logis yang muncul ketika saya mencoba untuk terus positif memiliki seorang ‘panutan’. Setidaknya hal itu benar-benar ada manfaatnya bagi saya sendiri, saya merasakannya, daripada apabila misalnya saya dengan sepenuh hati mencoba membenci seseorang. Saya tidak punya bakat menjadi haters. Jujur perasaan saya sering tidak enak sendiri bahkan hanya gara-gara berkata tidak sepantasnya kepada orang lain, apalagi sampai membenci orang. Ada perasaan dihantui rasa bersalah.

Di balik itu semua, ada alasan mengapa saya menulis masalah ini, karena hari ini saya benar-benar dalam posisi tidak enak, ketika tokoh yang sangat punya jasa besar kepada saya, tidak sengaja terjatuh dan kemudian para haters langsung melancarkan makian mereka. Saya tidak habis pikir, apakah di pikiran mereka, orang yang mereka benci itu dipandangnya ‘harus’ tidak pernah melakukan kesalahan? Dan ketika orang itu melakukan kesalahan sangat kecil, pun, mereka semacam langsung kesurupan sejadi-jadinya.

Saya teringat kalimat verbal pada film Mandela Long Walk to Freedom (2013) bahwa: para pembenci akan menang ketika kita meladeni apa yang mereka lontarkan. Maka hari ini saya memilih diam di jejaring sosial saya, Twitter khususnya. Karena saya sudah sangat paham bagaimana harus menghadapi posisi semacam ini. Seperti sudah saya katakan sebelumnya, salah satu poin utama yang saya pelajari dan dapatkan ketika mengurusi fanbase adalah manajemen pikiran.

Hari ini saya menonton Free Samples (2012) sebuah sajian dengan skenario sederhana, presentasinya pun sederhana namun bisa memberikan banyak hal yang tidak sederhana. Merupakan kali kedua saya menonton film ini. Saya selalu suka dengan akting dan cara berbicara Jesse Eisenberg. Lekit di pikiran saya scenes favorit yang ada pada film ini. Film yang menyenangkan untuk melemaskan beban pikiran.

Sudah berpikiran positif apa hari ini?

Lekit (a) masih lekat; belum kering