Harapan – Day 23 of 365

image

Project 2014 Day 23 of 365

Seberapa besar masalah yang muncul apabila kemudian diberi kabar bahwa sisa hidup manusia tinggal satu bulan lagi gara-gara penyakit? Ini adalah premis yang rasanya sudah sangat klise di masyarakat pecinta tontonan. Tapi yang menjadi pembedanya adalah: apakah yang akan terjadi setelahnya?

Saya sekilas banyak menonton film-film atau sinetron di Indonesia yang menggunakan formula seperti ini. Tetapi yang patut disayangkan adalah eksekusinya cenderung monoton semacam tidak ada alternatif lain. Contoh hal yang kemudian muncul adalah: sang tokoh berkata, “Aku baik-baik saja, kok.” Atau, “Biarkan aku sendiri dengan penyakitku ini tanpa harus merepotkan kalian.” Atau, “Tuhan, kenapa kau timpakan hal hina ini pada hamba.” Kemudian bisa diduga jauh sebelumnya bahwa sang tokoh langsung mengalami pertobatan luarbiasa, mendadak sangat religius. Mungkin ini efek karena Indonesia terlalu suka mendramatisasi sesuatu dan agama menjadi pelarian ‘terakhir’.

Sebenarnya saya masih tidak mengerti dengan motif pasrah seperti itu. Mengapa mereka tidak terus berusaha menemukan cara untuk ‘stay alive’ sambil terus berbenah, daripada hanya meratapi diri sendiri? Deduksi pertama saya adalah mental kita memang sengaja dibuat seperti ini agar orang-orang yang menginspirasi terasa sangat langka.

Hubungannya hal di atas dengan apa yang saya lakukan hari ini adalah, saya tadi menyelesaikan tontonan Dallas Buyers Club (2013) sebuah film yang lagi-lagi mengandalkan penyakit dan vonis kronis pada premisnya. Namun sang penulis naskah sepertinya memang punya berbagai alternatif bagaimana akan menjabarkan the rest of the story menjadi sebuah hal yang tidak biasa. Ron sebagai tokoh utama divonis terkena HIV dan kekebalan tubuhnya menurun drastis sehingga sering tidak sadarkan diri. Dengan kondisi seperti itu, dia diberitahu dokter yang merawatnya bahwa hidupnya tinggal satu bulan lagi. Bahkan dokter sampai heran mengapa dia masih bisa bertahan hidup.

Apa yang dia kemudian lakukan? Ron terlihat sama sekali tidak memikirkan kematian. Yang terlintas di benaknya hanyalah: bagaimana cara mengenyahkan penyakit itu dari tubuhnya, karena hal itu juga menghalanginya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi lagi. Intinya adalah dia terus berusaha mencari info sebanyak-banyaknya tentang penyakit itu, dan menjadi penyelundup ‘expert’ obat-obat yang digunakan untuk membantu tubuhnya berangsur-angsur memiliki kekebalan, menjadi barier atas pertumbuhan virus yang dipeliharanya, meskipun hanya bersifat temporer.

Saya menyukai tokoh ini. Dia berhasil memperoleh rasa simpati dari saya sepanjang jalan cerita. Bahwa seburuk apapun keadaan, kalau seseorang masih memiliki harapan besar dan mau bergerak hal itu juga akan menjadi sebuah bentuk jalan keluar juga bagi orang lain. Kalau menurut hal yang selalu saya pegang sampai sekarang: Stay positive! Hal itu bisa sangat membantu.

Hari ini ditutup dengan kisah-kisah hantu-setan-iblis yang berhamburan di Group Chat Line saya. Lumayan menambah referensi saya ketika membaca banyak kisah yang dilontarkan. Ngakak ketika banyak teman-teman saya yang lain kemudian mengumpat ke jejaring sosial mereka karena membaca isi chat itu. Kebetulan hari ini adalah malam Jumat yang katanya ‘keramat’. Well, selamat bersenang-senang.

Sudah membuat harapan baru apa hari ini?

barier /bariƩr/ (n) penghalang; pencegah.