
Project 2014 Day 25 of 365
Hari ini seperti menjadi thriller day. Entah mendapat intuisi apa, namun tiga film yang saya saksikan tadi mengangkat tema sejenis. Dua film saya tonton ulang: We Need To Talk About Kevin, The Pianist, dan satu film dokumenter baru: The Act of Killing (2013).
Pun hari ini terjadi gempa di Kebumen dan getarannya sampai terasa di Jogja. Tidak bisa dibilang kecil, 6,5 SR berpusat di laut, bahkan para tetangga sampai keluar rumah serta ayam-ayam peliharaan berpetok-petok tidak berhenti.
Kembali pada tontonan hari ini. Saya selalu mensugestikan diri saya sendiri sebagai orang yang tidak kuat menonton film thriller yang terlalu banyak pertumpahan darah. Namun biasanya terdapat pengecualian pada beberapa tontonan genre ini (saya dengan senang hati tetap menonton film-filmnya Quentin Tarantino, sesadis apapun itu). Jelas saya tidak akan menyukai dan bahkan tidak sudi untuk menonton SAW. Episode berapapun. Lagi, saya hanya kuat nonton Final Destination 5 di 15 menit awal, setelah menyaksikan adegan orang mati tertusuk tiang kapal karena jatuh dari jembatan. Meskipun saya masih bisa mentolerir kesadisan Final Destination 1-4, saya tuntaskan.
Lain halnya dengan film dokumenter ini, The Act of Killing adalah sebuah kontroversi tersendiri. Terlepas dari fakta bahwa itulah cerita yang sebenarnya terjadi dan masyarakat kita telah dibutakan oleh cerita rekayasa yang sengaja dibuat–sampai sekarang. Beberapa bulan lalu pada mata kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia, kelompok presentasi saya sengaja mengangkat judul Kontroversi Supersemar. Tentu hal ini menyebabkan konten yang berhubungan langsung dengan tragedi tahun 65 memiliki porsi besar tersendiri. Kami menemukan banyak fakta yang memang seperti ‘sengaja’ dikubur. Kemudian fakta-fakta ini kami bawa ke kelas agar teman-teman yang lain juga mengetahuinya. Lalu setelah tadi menonton The Act of Killing, jujur saya banyak tersenyum simpul. Karena apa yang saya saksikan di film dokumenter tersebut sesuai dengan fakta yang kelompok saya sampaikan di kelas beberapa bulan lalu, seperti pembenaran.
Kemudian saya menyoroti masalah ketika film ini dianggap sebagai hal yang memperburuk citra Indonesia. Membongkar kejadian kelam bangsa sendiri dan membiarkan dunia kini tahu lebih banyak. Sebenarnya saya heran, kenapa sejarah bangsa kita sendiri malah sengaja ditutup-tutupi oleh orang-orang yang berkepentingan? Mengapa tragedi 65 sengaja dibuat versi fiksinya dan kebetulan versi ini lah yang kemudian disebarkan pada kurikulum? Yang lebih konyol adalah elitis kita seperti kalang kabut setelah hal ini diangkat dan kebetulan lagi, film ini masuk nominasi di berbagai ajang bergengsi penghargaan film dunia, termasuk Oscar 2014.
Saya melihat fakta sejarah yang ditutupi tetap saja akan tercium bau busuknya cepat atau lambat. Meskipun tidak semua orang mengetahuinya secara terlambat. Akademisi yang merasa janggal tentu akan segera sadar lalu mengorek informasi sebenarnya. Seperti yang kelompok presentasi saya lakukan, meskipun informasi yang kami dapatkan masih sekedar dari literatur ‘langka’ dan penjelasan dosen bersangkutan. Namun itu sudah sangat gamblang membuktikan betapa jahatnya sejarah kita karena telah menipu jutaan orang untuk mempercayai teks sejarah yang sudah direkayasa. Saya berpandangan bahwa kita sebenarnya tidak perlu malu atau takut. Kita anggap itu sebagai catatan hitam yang dulu memang pernah terjadi. Karena ketika terungkap ke masyarakat dunia sekarang ini, di saat yang terlambat, malah terjadi kontoversi lagi, di China misalnya. Apabila sejarah ini terungkap lebih awal, saya rasa ketegangan-ketegangan baru tidak harus terjadi.
Ambil contoh sejarah kelam Amerika tantang slavery atau perbudakan yang terjadi sampai ratusan tahun. Saya pandang bahwa mereka bisa lebih berani bersaksi, karena sejarah yang muncul tentang hal itu minimal tidak semuanya direkayasa. Bahkan kemudian muncul film-film yang menyangkut pautkan hal ini dan elitis mereka tidak mempermasalahkan karena hal ini sudah menjadi rahasia umum, tidak perlu ditutup-tutupi. Coba tengok film terbaru 12 Years A Slave (2013) yang mengangkat tema slavery abad 19. Sangat kejam. Siapa yang tidak geram saat menonton film seperti ini? Ini menyangkut hal kemanusiaan, di mana seharusnya hidup tidak mengenal diskriminasi warna kulit. Namun karena sejarah perbudakan tidak dianggap sebagai hal tabu lagi, maka akhirnya film ini bisa dijadikan pengingat bahwa kejadian sebuah negara tidak bisa mulus tanpa cela. Sejarah akan lebih baik ketika fakta yang memang seharusnya diketahui semua kalangan tidak ditutup-tutupi. Bahkan sangat tidak adil ketika malah direkayasa menjadi sejarah bohong.
Sudah berpikiran terbuka apa hari ini?
Sudi (v) bersedia (akan) [Saya memilih kata ini karena masyarakat sering salah dengan penggunaannya]