Penerawangan – Day 26 of 365

Project 2014 Day 26 of 365

Seharian ini saya berada di Sekretariat Kaca, Kedaulatan Rakyat. Dari jam 10:00 pagi sampai jam 09:00 malam. Tidak akan selama ini durasinya apabila tidak ada kegiatan khusus. Hari ini adalah sesi ‘penerawangan’ bagi calon Kaca 23. Merupakan kali pertama saya ikut terlibat dalam sesi ini. Saya dulu Kaca angkatan 18, dan dari Kaca 19 sampai Kaca 22 tidak terlalu terlibat pada hal perekrutan.

Menyenangkan sewaktu terlibat langsung dan mengikuti rangkaian seleksi penerimaan ini dari awal. Karena yang istimewa lagi, untuk Kaca 23, bentuk seleksinya dibuat lebih ketat, berlapis lapis. Penyebabnya karena kami ingin mendapatkan orang-orang yang ‘unik’ dari berbagai hal, pun disebabkan jumlah pendaftarnya yang lumayan banyak. Sesi yang dilakukan hari ini (sebenarnya dari kemarin Sabtu, namun saya tidak ikut) merupakan rangkaian ‘nyaris’ akhir. Setelah terlewati maka akan langsung dikabari apakah perjuangan mereka dari pertengahan Desember sampai akhir Januari ini berbuah hasil manis atau tidak.

Lagi-lagi niat adalah hal sakral yang tetap harus dipegang teguh. Apabila niatnya tidak kuat, bisa ditarik kesimpulan dasar: mundur. Lupakan rangkaian lain yang telah dilangsungkan sebelumnya, sebab saya hanya akan sedikit berbagi mengenai hal baru apa yang saya dapatkan hari ini.

Yang saya sukai ketika terlibat dalam forum tertutup adalah pasti memperoleh hal baru yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Secara keseluruhan saya melihat perubahan signifikan yang terjadi pada tahap ini dibandingkan alur sebelumnya. Dulu awal-awal banyak di antara mereka para peserta seleksi yang masih malu-malu membuka diri pada kami. Tetapi tadi saya lihat mereka sudah mengerti bagaimana sistem kami berjalan, mayoritas dari mereka sudah tahu bahwa terbuka itu lebih baik. Karena memang tujuan kami bukanlah untuk kepo, namun lebih agar kami tahu bagaimana harus memperlakukan setiap individu anggota baru, tidak bisa disamaratakan.

Ada satu hal yang sangat membekas pada ingatan saya tentang salah satu ‘penerawangan’ hari ini. Cerita tentang orangtua memang paling mujarab untuk membuat seseorang menangis. Salah satu peserta bercerita ibunya yang sudah meninggal sejak usianya baru tiga tahun. Dia tahu muka sang ibu, namun dia sama sekali tidak bisa mengingat suaranya, perlakuannya. Kami kemudian bertanya: Pernah mimpi ketemu ibu?  Dia menjawab belum. Lalu kami tanya lagi: Kamu pengen banget mimpiin ibu? Dia kontan menangis sesenggukan. Saya bisa ikut membayangkan bagaimana seorang anak sudah ditinggal sosok ibu sejak usia sangat dini. Ingat apa sih manusia ketika masih berumur tiga tahun? Dia lalu bercerita bahwa sering sedih ketika melihat teman-temannya yang lain ada yang berujar jelek mengenai ibu mereka, misal dimarahi dan sebagainya. Dia bilang pasti ibu mereka berlaku seperti itu karena untuk kebaikan mereka juga. Dia sebenarnya sangat ingin merasakan hal yang sama.

Sejalan dengan potongan cerita di atas, hari ini saya menonton film An Education (2009). Sebuah penceritaan yang sebenarnya bisa jadi mainstream, mengenai siswi sekolah menengah yang kenes, pada awalnya menggebu-gebu mengejar cita-cita namun tiba-tiba di tengah perjalanan tidak sengaja tersandung suatu hal sehingga menjadi disorientasi. Yang membuatnya berbeda adalah konflik yang menjadi penyandungnya. Pun peran orangtua di sini sangat ditekankan, bimbingan dari orang-orang terdekat sangatlah berharga. Itulah yang saya lihat memberikan nilai positif terhadap penyajian film ini sehingga tidak terkesan biasa saja. Menarik.

Sudah berbuat untuk orangtua perihal apa hari ini?

kenes /kenés/ (a) 1 lincah dan menawan hati (tentang sikap anak kecil) banyak bicara dan banyak tingkah yang menyenangkan; 2 suka bergaya dan bertingkah laku dibuat-buat supaya menarik perhatian; genit; keletah; 3 bangga akan keadaan dirinya; bermegah diri; mengagungkan diri.