#20thPROJECT
#week10
10 Tahun
03 Juli 2014.
Satu hal yang benar-benar saya ingat di usia 10 tahun adalah tayangan kartunnya. Sebenarnya tahun-tahun sebelumnya hal serupa sudah ada, namun bisa saya bilang, 2004 adalah tahun terbaik untuk marathon kartun.
Sampai-sampai saya rela menyumpal pantat kaset milik orangtua saya supaya bisa digunakan untuk merekam suara. Anda yang tau cara kerja perekaman kaset pita pasti tahu bagaimana wujudnya. Karena Kaset itu terbagi jadi dua sisi, biasanya ditandai huruf A dan B. Dan kebetulan yang saya miliki adalah yang berdurasi panjang (satu sisi bisa satu jam), maka bagian A saya gunakan sebagai perekam ketika saya membacakan cerita dari majalah Bobo (ya, saya merekam suara sendiri ketika sedang mengisahkan cerita). Lalu bagian B khusus rekaman soundtrack film-film kartun tersebut.
Ada sekitar 50-an soundtrack yang terdapat di dalam kaset itu. Bahkan daftar judulnya saya ketik dengan mesin ketik manual. Saya coba ketik dengan rapi, menghindari penggunaan tipe-x.
Di lain hal, kejadian kelas III terulang kembali di kelas IV ini. Untuk kedua kalinya saya memperoleh angka 0, parahnya, penyebabnya sama: saya masih ngeyel! Untuk bab pengurangan menggunakan pengurangan bertingkat (gunggum susun). Saya ngotot, meskipun angkanya dipinjam, tapi jumlah angkanya bakal tetap, tidak ikut dikurangi. Yah, mau gimana lagi kalau memang sejak kecil sudah punya bakat ngeyel?
Tambahan lain, di tahun 10 ini saya sempat tersengat ubur-ubur ketika liburan ke pantai Krakal. Jangan salahkan saya kalau tiba-tiba mencoba untuk memecahkan “balon” itu dengan tangan kosong. Bahkan efek sengatnya sangat halus, sengatnya tidak terasa. Tiba-tiba saja tangan saya terasa gatal panas. Bolak-balik kamar mandi hanya untuk merendam tangan biar dingin, supaya panasnya hilang, tapi ternyata nihil. Hingga akhirnya ketika rasa panas itu terus menjalar sampai ke dada, ibu dan bapak baru panik menuju warung terdekat. Saya baru tau kalau tadi terkena sengat ubur-ubur. Nyaris mati. Astagfirullah. Di warung itu tangan saya direndam tanpa ampun dengan air panas (benar-benar mendidih) yang terus-terusan diganti. Seingat saya, airnya sampai diganti lima kali (diganti setelah warna airnya berubah kekuningan, prediksi saya, itu adalah racunnya). Terakhir, punggung telapak tangan saya diurut dengan pecahan cangkang kepiting kecil yang bau (di dalam cangkang itu ada semacam pasir berlendir). Saya selamat. Terimakasih Tuhan.
Salah satu tahun terbaik yang pernah saya alami.
Sampai jumpa pekan depan!