Selamat petang, #Beat2015 14/365
Review di bawah ini sudah tersedia pula di tersapa.com
—

Judul: Big Eyes | Sutradara: Tim Burton | Pemain: Amy Adams, Christoph Waltz, Krysten Ritter | Durasi: 106 menit | Genre: Biografi, Drama | Rilis: 25 Desember 2014 (USA)
A drama about the awakening of the painter Margaret Keane, her phenomenal success in the 1950s, and the subsequent legal difficulties she had with her husband, who claimed credit for her works in the 1960s.
Saya curiga, sepertinya Amy Adams menjadi kandidat terkuat penerus Meryl Streep. Kemampuan aktingnya mencuri perhatian hampir di tiap tahun. Kali ini film Big Eyes berhasil pula didukungnya hingga menjadi sebuah sajian yang penting dan indah sekaligus.
Mengisahkan tentang kehidupan Margaret Keane (Amy Adams) yang selama bertahun-tahun menjadi “ghostpainter” bagi suami keduanya Walter Keane (Christoph Waltz). Lukisan yang digarapnya, dikenal sebagai Big Eyes, dijadikan atas nama Keane (inisial untuk Walter). Ketika suaminya memperoleh ekspos luas, hal sebaliknya malah terjadi pada dirinya–terkurung dan tidak bisa bersuara. Menurut saya, ini adalah salah satu hal paling menyakitkan yang pernah ada. Saya bisa merasakan kebencian terhadap Walter bahkan sejak di bagian awal, sebab saya tahu bagaimana panjang dan sulitnya proses untuk menemukan kekhasan dalam hal melukis.
Ucapan terimakasih sepantasnya diberikan kepada Tim Burton (sebagai sutradara) dan Scott Alexander serta Larry Karaszewski (penulis naskah) karena telah mengangkat hal ini ke dunia perfilman. Isu yang ada di Big Eyes adalah isu penting yang harus disadari oleh banyak orang. Sebab hal yang lebih menyedihkan dari pencurian ide adalah pencurian hasil karya jadi untuk kemudian diaku sebagai hasil karyanya sendiri oleh orang lain.
Dari departemen suara, pemilihan Lana Del Rey sebagai pengisi soundtrack utama (Big Eyes dan I Can Fly) adalah sebuah keputusan yang sangat tepat. Warna vokalnya pun lirik sederhana yang dilantunkan sangat mendukung atmosfer Big Eyes itu sendiri. Pun misal hanya dari sisi scorring saja momen emotion lifting sudah bisa dibangun dengan baik–apalagi setelah ditambah vokal Lana. Selain itu, kostum, tone warna visual, make-up, dan hairstyling-nya sukses membangun suasana yang diharapkan pula.
Catatan yang saya temukan tentang film ini sebenarnya bersifat minor: akting Christoph Waltz di awal-awal yang terlihat masih ada kejanggalan. Saya kurang yakin apakah memang diharapkan seperti itu, atau kah karena belum mendapat chemistry yang cukup kuat di bagian awal. Sebab di pertengahan hingga di adegan akhir–persidangan (yang menurut saya sangat epic, namun sayangnya sedikit kurang tergali)–, Amy dan Christoph mampu menunjukkan duet akting yang sangat menarik.
Big Eyes berhasil tampil sebagai film yang berkarakter dengan ikatan emosi kuat.
9/10