Bagian 2 dari tulisan mobilitas gadget.
Berikutnya, jangan percaya kalau ada orang yang bilang tablet android (atau mungkin iPad juga) itu seberguna laptop.
Ya, memang secara fungsi yang didukung tablet, memungkinkan pengguna untuk melakukan apa pun pekerjaan layaknya laptop. Namun percayalah, multitaskingnya belum sebagus itu.
Apalagi mengingat tampilan tablet android (dan iPad) rata-rata cuma versi lebih gedhe dari smartphone. Untuk mencapai level kepuasan penggunaan, semestinya OS tablet sudah diberikan kustomisasi khusus. Paling tidak biar kefamiliaran desktop juga terasa di situ. Ketika wujudnya sama saja dengan smartphone, atmosfer kerjanya semacam teredam. Bawaannya cuma pengin buat main-main dan menghabiskan waktu scroll sana scroll sini, pencet sana pencet sini. Not as productive as it was expected.
Ada pengecualian di lini tablet ini. Kalau kamu kebetulan memilih tipe yang tepat, tablet bisa benar-benar menyubtitusi laptop dan membuatmu semakin mobile. Dari yang sudah saya alami, saya memilih untuk membeli tablet Windows. Ukurannya cuma 8 inchi, tetapi fiturnya sama persis kalau kita menggunakan komputer/laptop. Bahkan, tablet ini kuat untuk melakukan editing video.
Sedangkan, kalau masih pengin ada sensasi Android-nya, toh juga masih ada pilihan tablet ber-OS Remix. Kalau penasaran, Remix ini memiliki basis sistem android, tetapi user interface-nya sudah disesuaikan.
Dua tipe tablet terakhir yang saya sebut belakangan mulai melambung popularitasnya. Di bundling penjualan bahkan ada yang mengemas dalam paket hybrid–layar dan keyboard bisa dilepas. Kalau pun aksesoris tidak sepaket, kita masih bisa melengkapinya sesuai selera dengan membeli ketengan.
Sebagai pihak yang sudah memakai tablet Windows selama hampir dua tahun, saya merasa bangga. Terkesan futuristik dan portable. Dan saya kira kamu juga perlu mencobanya. Hahaha.